ALERGI ONLINE

Pengalaman klinik: Tak Jadi Operasi ternyata Bukan Penyakit Hirscprung, Tetapi Hanya Alergi atau Hipersentif Saluran Cerna.

Advertisements

 

Orangtua seorang bayi berusia 2 bulan sempat dibuat cemas dan panik ketika anaknya didiagnosis penyakit Hirscprung dan harus dilakukan operasi pemotongan usus atau kolostomi. Gangguan itu diawali oleh gangguan sulit buang air besar atau konstipasi pada anak bayinya. setelah dilakukan berbagai pemeriksaan dinyatakan mengalami gangguan itu. Ternyata yang membuat orangtua semakin bingung karena diagnosis tentang hirscphrung terjadi beda pendapat dengan beberapa dokter. Karena, saat usia 2 minggu si bayi tak mengalami hal itu. Karena banyaknya beda pendapat itu orangtuanya melakukan second opinion ke berbagai dokter. Salah satu ada seorang dokter yang mengatakan bahwa si bayi mengalami alergi saluran cerna yang bias berdampak pada gangguan sulit buang besar dan konstipasi. Ternyata setelah dilakukan eliminasi provokasi makanan pada bayi tersebut keluhan buang air besar membaik dan anak tidak jadi operasi.

Para peneliti mengungkapkan kasus neonatal alergi kolitis, yang memanifestasikan kesulitan buang air besar spontan dan penyempitan tidak teratur rektum distal dalam kontras enema. Biopsi hisap dubur menunjukkan aktivitas asetilkolinesterase positif. Temuan klinis, radiologis dan histologis ini tidak dapat dibedakan dari penyakit Hirschsprung. Gejala gastrointestinal membaik dengan berhentinya susu formula sapi. Temuan ini dapat berdampak pada manifestasi alergi kolitis gastrointestinal yang kurang dikenali.

Alergi saluran cerna sering terjadi pada bayi khususnya kolitis. Rektum adalah organ target utama, dengan kolitis alergi sering didiagnosis berdasarkan klinis saja. Namun, seorang anak dengan terdapat gangguan inflamasi usus alergi dapat dirujuk ke radiologi untuk barium enema, terutama jika sembelit. Ahli radiologi harus mewaspadai temuan pencitraan unik dari kolitis alergi, untuk menghindari kebingungan dengan penyakit Hirschsprung dan mungkin biopsi rektal yang tidak perlu.

Pemeriksaan Barium enema pada gangguan  kolitis alergi dan mungkin bias membedakannya dari penyakit Hirschsprung. Temuan radiografi berkorelasi dengan spesimen patologis dari biopsi rektum hisap. Pada banyak kasus penderita alergu saluran cerna enema mengungkapkan penyempitan yang tidak teratur pada dubur dan zona transisi. Biopsi rektal pada setiap kasus menunjukkan sel-sel ganglion dan bukti kolitis alergi, dengan infiltrat inflamasi pada lamina propria. Diagnosis kolitis alergi makanan dibuat dan gejalanya teratasi setelah dilakukan eliminasi provokasi makanan penyebab alergi.

Advertisements

Hal ini menunjukkan bahwa gangguan Buang Air Besar bisa disebabkan berbagai faktor baik gangguan fungsional atau organik Dalam kondisi tertentu kedua gangguan tersebut sulit dibedakan karena gejala klinisnya hampir mirip. Sayangnya gangguan tersebut sulit dipastikan dengan pemeriksaan diagnostik radiologi yang lain kecuali dengan biopsi. Bila kedua diagnosis tersebut meragukan dan anak mengalami gejala alergi lainnya sebaiknya dilakukan elminasi provokasi makanan. Bila gangguan itu membaik maka gangguan organik atau penyakit Hirscprung dapat disingkirkan atau bukan berarti penyakit hirscprung tetapi karena alergi saluran cerna biasa.

Penyakit Hirscprung

Penyakit Hirschsprung atau biasa disebut congenital aganglionic megacolon, Hirschsprung disease, Waardenburg-Hirschsprung disease, Waardenburg syndrome type 4, WS4) adalah suatu bentuk penyumbatan pada usus besar yang terjadi akibat lemahnya pergerakan usus karena sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan kontraksi ototnya. Hal ini disebabkan karena terjadi mutasi pada gen EDN3, EDNRB, dan SOX10.

Kelainan Hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya. Saraf yang berguna untuk membuat usus bergerak melebar menyempit biasanya tidak ada sama sekali atau kalopun ada sedikit sekali. Namun yang jelas kelainan ini akan membuat BAB bayi tidak normal, bahkan cenderung sembelit terus menerus. Hal ini dikarenakan tidak adanya saraf yang dapat mendorong kotoran keluar dari anus. Kotoran akan menumpuk terus di bagian bawah, hingga menyebabkan pembesaran pada usus dan juga kotoran menjadi keras sehingga bayi tidak dapat BAB. Biasanya bayi akan bisa BAB karena adanya tekanan dari makanan setelah daya tampung di usus penuh. Tetapi hal ini jelas tidaklah baik bagi usus si bayi. Penumpukan yang berminggu bahkan bulan mungkin akan menimbulkan pembusukan yang lama kelamaan dapat menyebabkan adanya radang usus bahkan mungkin kanker usus. Bahkan kadang karena parahnya tanpa disadari bayi akan mengeluarkan cairan dari lubang anus yang sangat bau. Kotoran atau tinja penderita ini biasanya berwarna gelap bahkan hitam. Dan biasanya apabila usus besar sudah terlalu besar, maka kotorannya pun akan besar sekali, mungkin melebihi orang dewasa. Ciri lain hirschprung adalah perut bayi anda akan kelihatan besar dan kembung serta kentutnyapun baunya sangat busuk. Selain itu juga riwayat BABnya selalu buruk atau tidak normal.

PENYEBAB

  • Dalam keadaan normal, bahan makanan yang dicerna bisa berjalan di sepanjang usus karena adanya kontraksi ritmis dari otot-otot yang melapisi usus (kontraksi ritmis ini disebut gerakan peristaltik). Kontraksi otot-otot tersebut dirangsang oleh sekumpulan saraf yang disebut ganglion, yang terletak dibawah lapisan otot.
  • Pada penyakit Hirschsprung, ganglion ini tidak ada, biasanya hanya sepanjang beberapa sentimeter. Segmen usus yang tidak memiliki gerakan peristaltik tidak dapat mendorong bahan-bahan yang dicerna dan terjadi penyumbatan.
    Penyakit Hirschsprung 5 kali lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki. Penyakit ini kadang disertai dengan kelainan bawaan lainnya, misalnya sindroma Down.
BACA  Pencegahan Alergi Sejak Dini : Kenali Tanda dan gejala Alergi Pada Bayi

GEJALA

  • Gejala-gejala yang mungkin terjadi: – segera setelah lahir, bayi tidak dapat mengeluarkan mekonium (tinja pertama pada bayi baru lahir) – tidak dapat buang air besar dalam waktu 24-48 jam setelah lahir – perut menggembung – muntah – diare encer (pada bayi baru lahir) – berat badan tidak bertambah – malabsorbsi.
  • Kasus yang lebih ringan mungkin baru akan terdiagnosis di kemudian hari. Pada anak yang lebih besar, gejalanya adalah sembelit menahun, perut menggembung dan gangguan pertumbuhan.

DIAGNOSA

  • Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan colok dubur (memasukkan jari tangan ke dalam anus) menunjukkan adanya pengenduran pada otot rektum.
  • Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
    • Rontgen perut (menunjukkan pelebaran usus besar yang terisi oleh gas dan tinja)
    • Barium enema
    • Manometri anus (pengukuran tekanan sfingter anus dengan cara mengembangkan balon di dalam rektum)
      Biopsi rektum (menunjukkan tidak adanya ganglion sel-sel saraf).

PENGOBATAN

  • Untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyumbatan usus, segera dilakukan kolostomi sementara. Kolostomi adalah pembuatan lubang pada dinding perut yang disambungkan dengan ujung usus besar. Pengangkatan bagian usus yang terkena dan penyambungan kembali usus besar biasanya dilakukan pada saat anak berusia 6 bulan atau lebih.
  • Jika terjadi perforasi (perlubangan usus) atau enterokolitis, diberikan antibiotik.
  • Secara klinis, bagian usus yang tak ada persarafannya ini harus dibuang lewat operasi. Operasi biasanya dilakukan dua kali. Pertama, dibuang usus yang tak ada persarafannya. Kedua, kalau usus bisa ditarik ke bawah, langsung disambung ke anus. Kalau ternyata ususnya belum bisa ditarik, maka dilakukan operasi ke dinding perut, yang disebut dengan kolostomi, yaitu dibuat lubang ke dinding perut. Jadi bayi akan BAB lewat lubang tersebut. Nanti kalau ususnya sudah cukup panjang, bisa dioperasi lagi untuk diturunkan dan disambung langsung ke anus. Sayang sekali kadang proses ini cukup memakan waktu lebih dari 3 bulan, bahkan mungkin hingga 6-12 bulan. Setelah operasi biasanya BAB bayi akan normal kembali, kecuali kasus tertentu misal karena kondisi yang sudah terlalu parah.
  • Untuk itu maka orang tua perlu memperhatikan kondisi bayinya dan melakukan pertimbangan-pertimbangan agar bayi segera tertagani dan tidak semakin parah kondisinya. Jangan sampai orang tua membiarkan hal ini sehingga perut si Bayi lama kelamaan semakin membesar sehingga ususnyapun menjadi semakin lebar, sedangkan di bagian bawah kecil sekali.
  • Pertanyaannya, apakah ada jalan lain SELAIN OPERASI? Inilah pertanyaan yang selalu menjadi pertanyaan kami juga. Jika berdasarkan dokter dan literatur kedokteran, ya tidak ada jalan lain.

ALERGI ATAU HIPERSENSITIF SALURAN CERNA

  • Amati Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak pada bayi anda
  • Sulit BAB sering ngeden dan mulet2 atau kesakitan saat BAB (obstipasi). Buang air besar tidak tiap hari bahkan 2 – 7 hari sekali.
  • Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering kecipirit habis Berak berak lagi.. Sering KEMBUNG, sering buang angin. Sering NYERI PERUT atau malam rewel

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
BACA  Alergi makanan: Penelitian Terkini

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak yang disebabkan alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis seperti pencahar, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dlamkeadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.

Obat

  • Pengobatan Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak karena alergi dan hipersensitifitas makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan saluran cerna atau pencahar, pola makan serat, buah dan air putih banyak, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk menangani Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak tidak akan berhasil selama penyebab utama alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.
BACA  Angka Kejadian dan Epidemiologi Alergi Makanan

DAFTAR PUSTAKA

  • Bloom DA1, Buonomo C, Fishman SJ, Furuta G, Nurko S.Allergic colitis: a mimic of Hirschsprung disease.Pediatr Radiol. 1999 Jan;29(1):37-41.
  • Kawai M1, Kubota A, Ida S, Yamamura Y, Yoshimura N, Takeuchi M, Nakayama M, Okuyama H, Oue T, Kawahara H, Okada A. Cow’s milk allergy presenting Hirschsprung’s disease-mimicking symptoms.  Pediatr Surg Int. 2005 Oct;21(10):850-2.
  • Iacono G, Cavataio F, Montalto G, et al. Intolerance of cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med.1998; 339 :1100 –1104[Abstract/Free Full Text]
  • Bloom DA. Allergic colitis: a mimic of Hirschsprung disease. Pediatr Radiol.1999; 29 :37 –41[CrossRef][Web of Science][Medline]
  • Chin KC, Tarlow MJ, Allfree AJ. Allergy to cow’s milk presenting as chronic constipation. BMJ.1983; 287 :1593
  • Daher S, Sole D, de Morais MB. Cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med.1999; 340 :891[Free Full Text]
  • Iacono G, Carroccio A, Cavataio F, et al. Chronic constipation as a symptom of cow milk allergy. J Pediatr.1995; 126 :34 –39[CrossRef][Web of Science][Medline]
  • Shah N, Lindley K, Milla P. Cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med.1999; 340 :891 –892
  • Vanderhoof JA, Perry D, Hanner TL, Young RJ. Allergic constipation: association with infantile milk allergy. Clin Pediatr (Phila).2001; 40 :399 –402
  • Iacono G, Carroccio A, Cavataio F, Montalto G, Cantarero MD, Notarbartolo A. Chronic constipation as a symptom of cow milk allergy. J Pediatr.1995; 126 :34 –39
  • Iacono G, Cavataio F, Montalto G, et al. Intolerance of cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med.1998; 339 :1100 –1104
  • Daher S, Tahan S, Sole D, et al. Cow’s milk protein intolerance and chronic constipation in children. Pediatr Allergy Immunol.2001; 12 :339 –342
  • Terr AI, Salvaggio JE. Controversial concepts in allergy and clinical immunology. In: Bierman CW, Pearlman DS, Shapiro GG, Busse WW, eds. Allergy, Asthma, and Immunology From Infancy to Adulthood. Philadelphia, PA: WB Saunders; 1996:749–760
Advertisements
Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Alergi Whatsapp, Chat Di Sini