September 29, 2022

ALERGI IMUNOLOGI ONLINE

THE SCIENCE OF ALLERGY AND IMMUNOLOGY : Info Alergi Imunologi Pada Bayi, Anak, Dewasa dan Lansia Oleh Dokter Indonesia Online

Mekanisme Respons Imun Terhadap Alergen

4 min read
Advertisements
Advertisements
Spread the love

Mekanisme Respons Imun Terhadap Alergen

Penyakit alergi terjadi akibat adanya gangguan mekanisme respons imun, sehingga terjadi inflamasi kronis dengan dasar kelainan hipersensitivitas IgE dan infiltrasi eosinofil dan limfosit ke dalam jaringan. Di antara sel-sel sistem imun, sel T memainkan peran utama dalam respons inflamasi. Sel T diaktifkan saat antigen presenting cells (APC) menangkap antigen dan menampilkan fragmen antigen yang terikat dengan molekul major histocompatibility complex (MHC).

Proses presentasi antigen ini, merangsang sel T berdiferensiasi menjadi sel T sitotoksik atau sel T helper (Th). Sel T helper (Th), dapat dibedakan menjadi dua subtipe berdasarkan sitokin yang dihasilkannya yaitu sel Th1 dan Th2.

Sel Th1 memproduksi interleukin (IL)-2, interferon-γ (IFN-γ), dan tumor necrosis factor-β (TNF-β), sedangkan Th2 akan memproduksi IL-4, IL-5, IL-9 dan IL-13. Alergen yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan respons imun.

Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai APC akan menangkap alergen. Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptida dan bergabung dengan molekul human leukocyte antigen (HLA) kelas II membentuk komplek peptida major histocompatibility complex (MHC) kelas II yang kemudian dipresentasikan kepada sel Th.20 Kemudian APC akan melepas sitokin seperti IL-1 yang akan mengaktifkan sel Th untuk berproliferasi menjadi sel Th1 atau Th2 serta memproduksi IL-2 yang menstimulasi sel Th2 memproduksi IL lain. Aktivasi ini diperkuat oleh IL-5 dan IL-9. Interleukin-4, (IL-4) dan IL-13 berikatan dengan reseptornya di permukaan sel limfosit B (Fc), sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi IgE.

Kemudian IgE akan berikatan dengan sel mast atau basofil (FcεR) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Bila individu tersensitisasi dengan alergen yang sama, maka IgE spesifik akan mengikat alergen tersebut dan terjadi degranulasi sel mast dan basofil, mengakibatkan terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators, antara lain prostaglandin, leukotrien, bradikinin,

Platelet Activating Factor (PAF), berbagai sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, IL-9, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor). Mediatormediator ini akan menimbulkan manifestasi penyakit alergi.

Advertisements

Penyakit alergi dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Studi genetik pada keluarga dengan atopi, telah diidentifikasi kromosom 11q dan 5q mempengaruhi produksi IgE.21 Kromosom 5q23-35 terdiri dari beberapa gen yang berperan dalam patogenesis alergi, termasuk gen yang mengkode sitokin Th2, IL-3, IL-4, IL-5, IL-9, IL-13 dan granulocyte-macrophage colonystimulating factor (GM-CSF). Kromosom 11q13 mengkode the β subunit of the high-affinity IgE receptor (FcεR1-β).

Meskipun komponen genetik sangat penting dalam penyakit alergi, tetapi faktor-faktor lingkungan termasuk paparan dari lingkungan (alergen, polusi) dan infeksi dapat menjelaskan terjadinya peningkatan penyakit alergi

Alergi Makanan

Reaksi alergi makanan adalah respon imunologis (hipersensitivitas) yang merugikan terhadap makanan atau komponennya. Gangguan ini dapat secara luas dibagi menjadi yang dimediasi oleh antibodi IgE dan yang melibatkan mediator yang berbeda. Reaksi alergi dengan onset akut gejala yang terjadi dengan cepat setelah konsumsi makanan biasanya dimediasi oleh IgE, yang dihasilkan oleh sel B yang memproduksi antibodi selama fase yang disebut sensitisasi, terikat pada sel mast jaringan dan basofil darah yang bersirkulasi. Setelah re-exposure, makanan penyebab mengikat molekul IgE spesifik untuk itu dan memicu pelepasan cepat mediator kimia reaksi alergi yang menyebabkan gejala.

Reaksi alergi makanan terkait IgE mempengaruhi satu atau lebih organ target, paling sering pada kulit, saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan sistem kardiovaskular. Respon imun fisiologis dan berbagai jenis reaksi alergi dan sel-sel yang terlibat. Ini menyajikan deskripsi mekanisme umum yang mendasari timbulnya toleransi oral. Ini kemudian berfokus pada saluran pencernaan dan membahas struktur anatomi dan fungsional dari sistem kekebalan usus dan perannya dalam alergi makanan. Bab ini juga membahas peran epitel usus dan rute pengiriman alergen ke sistem kekebalan yang mendasarinya; di mana mesin kekebalan berada di tempat untuk memulai respons imun spesifik antigen. Pengetahuan saat ini tentang mekanisme kekebalan yang mendasari respons alergi, dengan penekanan pada reaksi yang dimediasi IgE, dan menganalisis bagaimana berbagai subset limfosit, seperti Sel Penyaji Antigen (APC) dan sel T-helper dapat memiringkan keseimbangan dari tolerogenik. respons terhadap respons imunogenik  dalam hal ini alergi.

Advertisements
Advertisements
Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terekomendasi