ALERGI ONLINE

Konsultasi Kesehatan Anak: Anakku Sulit BAB Tidak Kunjung Membaik ?

 

DOK, anak pertamaku berusia 23 bulan sudah setahun ini mengalami gangguan sulit BAB. BAB keras, bulat bulat, BAB tidak tiap hari bahkan pernah seminggu tidak BAB. Kadang menangis bahkan pernah karena sangat keras fesesnya hingga berdarah. Sudah berbagai obat dikonsumsi, berbagai dokter ahli dikunjungi dan berbagai advis dan tips dilakukan tetapi tetap saja gangguan pada anakku tak kunjung membaik. Anakku hampir setiap hari minum air putih banyak, makan banyak buah dan sayur tetapi tetap saja sulit BAB. Oh ya dok, anakku juga selama ini kulitnya sering muncul bintik merah, kadang mengelupas dan gatal di daerah kaki dan tangan. Anakku juga sering pilek berkepanjangan hingga 2 bulan, meski sudah berganti ganti minum obat pilek.

Konstipasi adalah ketidakmampuan melakukan evakuasi tinja secara sempurna yang tercermin dari berkurangnya frekuensi berhajat dari biasanya, tinja lebih keras, lebih besar dan nyeri dibandingkan sebelumnya serta pada perabaan perut teraba massa tinja (skibala). Kejadian konstipasi pada anak bisa mencapai 30% lebih. Konstipasi dapat menyebabkan 3% kunjungan pasien ke dokter anak umum dan 15-25% kunjungan ke konsultan gastroenterologi anak. Sebagian besar konstipasi pada anak (>90%) adalah fungsional yang bila dilakukan pemeriksaan lebih lanjut biasanya tidak ditemukan kelainan organik, 40% diantaranya diawali sejak usia satu sampai empat tahun.

Penanganan terbaik konstipasi kronis adalah mengidentifikasi penyebab dan mengatasinya.  Pemberian obat jangka panjang bukan jalan keluar yang utama. Banyak kasus penderita meski sudah minum obat pencahar jangkan panjang taj kunjung membaik karena kita tidak bisa mengenali penyebab gangguan tersebut.

Dalam pengalaman klinis dalam praktek sehari hari penyebab paling sering gangguan sulit BAB adalah gangguan fungsional hipersensitif saluran cerna. Ternyata gangguan ini sering terjadi pada bayi atau anak dengan riwayat alergi. Anak dengan gangguan alergi saluran cerna pada kelompok anak tertentu berdampak sulit BAB. Biasanya disertai dengan gangguan kulit dan hidung yang sensitif. Keluhan lain yang jarang menyertai adalah gangguan saluran cerna lainnya seperti nyeri perut, mual, muntah atau GERD.

Alergi makanan gastrointestinal tidak jarang terjadi pada bayi dan anak-anak. Gejalanya meliputi muntah, refluks, sakit perut, diare, dan sembelit. Diagnosis klinis memerlukan pengecualian penyakit nonimunologis yang memiliki gejala gastrointestinal serupa. Pada alergi makanan, reaksi kekebalan yang terlibat bisa berupa mediasi imunoglobulin (Ig) E, dimediasi sel atau keduanya. Gejala pada organ target lain sering terjadi pada kasus gangguan yang dimediasi IgE, tetapi tidak pada kelainan yang dimediasi sel di mana gejala biasanya terlokalisasi di usus. Diagnosis menggunakan riwayat medis terperinci, evaluasi klinis, pengujian kulit, antibodi IgE khusus makanan, respons terhadap diet eliminasi, dan provokasi makanan oral. Biopsi endoskopi sangat penting dalam gangguan yang diperantarai sel dan gastropati eosinofilik alergi. Penanganan gangguan ini termasuk menghindari makanan  dengan diet pembatasan makanan bersiko alergi. Kortikosteroid topikal dan / atau sistemik juga dapat digunakan pada esofagitis eosinofilik. Penelitian saat ini ditujukan untuk meningkatkan alat diagnostik dan pilihan terapeutik yang tersedia untuk pasien.

Advertisements

Alergi makanan gastrointestinal umum terjadi pada kelompok usia anak dan memiliki spektrum gangguan klinis yang luas dengan hasil yang bervariasi. Diagnosis dini diperlukan untuk mencegah kekambuhan gejala yang parah dan menurunkan morbiditas. Tes kulit dan antibodi IgE khusus makanan berguna, tetapi terkadang tidak meyakinkan dalam diagnosis alergi makanan. Diagnosis pasti dari alergi makanan GI membutuhkan penyelidikan endoskopi, respon yang jelas terhadap diet eliminasi dan tantangan makanan oral. Diet eksklusi efektif untuk gangguan ini. Pada beberapa pasien dengan gastropati eosinofilik, kortikosteroid dapat menghasilkan perbaikan klinis.

Menurut kriteria Roma IV untuk sembelit, pasien harus mengalami setidaknya dua dari gejala berikut selama tiga bulan sebelumnya:

  1. Kurang dari tiga buang air besar spontan per minggu
  2. BAB mengejan selama lebih dari 25% upaya buang air besar
  3. Kotoran yang tidak rata atau keras untuk setidaknya 25% upaya buang air besar
  4. Sensasi obstruksi atau penyumbatan anorektal untuk setidaknya 25% upaya buang air besar
  5. Sensasi buang air besar tidak tuntas minimal 25% dari upaya buang air besar
  6. Manuver manual diperlukan untuk buang air besar setidaknya 25% dari upaya buang air besar

Kriteria Rome IV juga menetapkan bahwa pasien tidak boleh memenuhi kriteria yang disarankan untuk sindrom iritasi usus besar (IBS) dan tinja jarang membaik ada tanpa penggunaan obat pencahar.

Saat penderita mengalami gangguan alergi lainnya ternyata banyak kasus saat dilakukan penghindaran makan tertentu penyebab alergi dalam 3 minggu keluhan tersebut sebagian besar membaik, meski tanpa harus mengkonsumsi minum obat jangka panjang.

Gangguan alergi seringkali meningkat saat terpapar konsumsi makanan yang mengandung bahan alergi makanan terganggu ringan dengan tapilan gejala berat keras, tak sampai menangis, atau BAB 2 hari sekali. Tetapi bila gangguan itu dibiarkan akan diperberat atau dipicu dengan adanya infeksi virus ringan seperti common cold, bersin, atau muncul batuk sekali sekali seperti tersedak atau pura pura. Badan teraba sedikit hangat pada dahi, badan dan tangan tetapi saat diukur suhu normal. Atau pada bagian kaki dan tangan justru teraba dingin. Saat terkena infeksi virus ringan maka gangguan konstipasi menjadi lebih berat hingga anak sampai menangis saat BAB, BAB yang dulunya tidak tiap hari menjadi 3-7 hari sekali bahkan hingga keluar darah.

Waspadai dampak yang terjadi bila berlangsung lama akan berdampak pada gangguan sulit makan atau gangguan kenaikkan berat badan, gangguan tidur malam, gangguan kekebalan tubuh menurun sehingga anak mudah sakit. Juga beberapa kasus bila timbul gangguan konstipasi  timbul pada bayi usia muda, disertai gejala perut yang kembung sering overdiagnosis sebagai penyakit Hirsprung. Karena gejala hampir mirip padahal bukan.

 

.

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *