ALERGI ONLINE

KONSULTASI KESEHATAN : Alergi Makanan dan Gangguan Tidur Pada Anak

Advertisements
Spread the love

Anak usia 2 Tahun sejak kecil usia 1-2 bulan sudah mulai sering sulit tidur. Bila tidur larut malam. Saat telah tertidur tengah malam sering bolak balik tidur dari ujung lke ujung tempat tidur, kadang terbangun duduk dan tidur lagi. Hal unik lain saat tidur seringkali nungging. Saat usia di bawah 3 bulan anak saya lebih sulit tidur dan sering rewel. Mintanya digendong terus, tidur sampai digendong, saat ditaruh dikasur saat itu pasti menangis. Dokter anak saat itu mengatakan anak tersebut kolik atau nyeri perut karena pencernaan, Sampai saat inipun kadang anak saya sering mengeluh sakit perut. 

DISKUSI KASUS

Penyebab gangguan tidur sangat banyak, salah satunya disababkan oleh dampak alergi makanan khususnya gangguan saluran cerna. Gangguan tidur yang sering terjadi adalah insomia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Gangguan tidur tersebut menimbulkan penderitaan dan gangguan dalam berbagai fungsi sosial, pertumbuhan dan perkembangan anak, maupun gangguan pada fungsi lainnya. Terdapat berbagai jenis insomnia tergantung beberapa kondisi dan penyakit yang melatarbelakangi gangguan tidur tersebut. Salah satu jenis gangguan tidur tersebut adalah “Food Allergy Insomnia” atau insomnia alergi makanan. Pada anak ibu sngat mungkin gangguan ntidur karena alergi saluran cerna atau alergi makanan. Hal itu ditandai dengan gangguan riwayat kolik dan saat ini sering nyeri perut.

Di samping pemberian nutrisi yang baik, ternyata aktifitas tidur merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia khususnya usia anak. Ketika dalam aktfitas tidur terjadi perbaikan fungsi metabolisme, fungsi homeostasis, regulasi panas tubuh, konservasi energi dan fungsi tubuh lainnya. Kualitas dan kuantitas tidur setiap individu berbeda. Semakin bertambah usia seseorang kebutuhan untuk tidurnya semakin berkurang. Pada bayi dan anak kecil sebagian besar waktu didominasi untuk aktifitas tidur, sedang pada lanjut usia sebaliknya.

Advertisements
loading...
Advertisements

Insomia adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Insomnia adalah bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala suatu penyakit. Terminologi insomnia sering digunakan untuk beberapa bentuk dan tipe gangguan tidur. Terdapat beberapa jenis insomnia diantaranya adalah Sleep Onset Insomnia, Delayed Sleep Phase Syndrome), Idiopathic Insomnia, Psychophysiological Insomnia, Childhood Insomnia (Limit-Setting Sleep Disorder), Food Allergy Insomnia, Enviornmental Insomnia (Enviornmental Sleep Disorder), Transient Insomnia (Adjustment Sleep Disorder), Periodic Insomnia (Non 24-Hour Sleep-Wake Syndrome, Altitude Insomnia, Hypnotic-Dependency Insomnia (Hypnotic-Dependent Sleep Disorder), Stimulant-Dependent Sleep Disorder, Alcohol-Dependent Insomnia (Alcohol-Dependent Sleep Disorder) dan Toxin-Induced Sleep Disorder.

Gangguan Tidur karena alergi makanan atau Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. The International Classification of Sleep Disorders mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasifikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan ICD 10 menggolongkan dalam G47.0+T78.4 sebagai Disorders of Initiating and Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok 780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type

Penelitian yang telah dilakukan penulis tahun 2004 yang telah diajukan dalam acara ilmiah internasional 24th International Conggress of Pediatric Cancun Mexico bulan Agustus 2004, menunjukkan bahwa dari 64 anak dengan gangguan alergi makanan dan gangguan tidur, setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab alergi selama 3 minggu didapatkan perbaikan. Didapatkan 97% anak perbaikkan dari pola tidurnya. Didapatkan 42 (66%) anak mengalami insomnia food allergy, 12 (19%) anak dengan somnambulisme, 8 (13%) anak dengan night terror, 32(50%) anak dengan nocturnal myoclonus.

Gejala Gangguan Tidur pada anak

  • Bayi sering terbangun malam hari, sering minta gendong dan seperti haus atau seperti minta minum, digendong diam ditaruh di kasur menangis.
  • Anak memulai tidur sulit tidur sering larut malam, sering terbangun malam hari, tidur bolak-balik dari ujung ke ujung. Tidur posisi nunggging seperti orang sujud saat salat.
  • Sering terbangun malam hari, duduk dan tidur lagi.
  • Sering mimpi buruk, mengigau atau menangis saat tidur
  • Bruxism (gigi gemeratak atau beradu gigi)

Sejauh ini belum ada penelitian yang memastikan sebab akibat gangguan tidur bisa menimbulkan berbagai hal yang mengganggu. tetapi seringkali bila terjadi gangguan tidur juga disertai oleh gangguan perilaku lainnya. Atau sebnaliknya pada anak gangguan perilaku sering mengalami gangguan tidur tetapu bukan sebagai sebab akibat. Tetapi banyak penelitian yang menunjukkan bahwa gangguan tidur yang disebabkan karena alergi makanan selalu disertai dengan gangguan organ tubuh serta gangguan perilaku seperti meningkatnya. Tetapi banyak penelitian menunjukkan bahwa gangguan tersebut terutama bukan karena akibat langsung gangguan tidur itu sendiri tetapi lebih disebabkan karena pengaruh alergi makanan yang terjadi.

Gangguan Yang Menyertai Gangguan Tidur

  • Sakit kepala, migraine, vertigo, nyeri otot dan tulang, nyeri perut
  • agresifitas anak meningkat, ditandai anak suka gemes, suku memukul muka orang yang menggendong, suka menggigit atau menjilat. Pada anak yang ebih besar kadang suka memukul, mencakar atau mencubit
  • gangguan emosi meningkat, ditandai mudah marah, sulit diberi tahu, keras kepala dan sering berteriak
  • hiperaktif atau overaktif , ditandai anak menjadi sangat aktif, bergerak terus tidak bisa diam, banyak bergerak, tidak bisa duduk lama, suka memanjat
  • gangguan konsentrasi, ditandai saat memainkan maianan mudah bosan sering berganti mainan, tidak bisa duduk lama, sering bengong, bila dipanggil harus beberapa kali baru menoleh
  • gangguan belajar, sulit menerima pelajaran, tidak mewarnai lama, sering lupa, malas belajar
  • Sering terjadi pada penderita Autism dan ADHD
BACA  Urtikaria, Bukan Sekedar Alergi Biasa ?

DISKUSI KASUS

Pada kasus anak usia 2 tahun dengan gangguan tidur disertai dugaan alergi saluran cerna setelah dilakukan anamnesa (riawayat kesehatan sejak bayi hingga usia 2 tahun) didapatkan data. Gangguan Hiperensiitifatas organ dan sistem tubuh yang didapatkan pada penderita

  • SALURAN CERNA :
    • Usia Bayi : pada usia di bawah usia 3 bulan mudah MUNTAH dan didiagnosis GER (gastroesofageal Rfleks). Punya riwayat kolik, sering rewel, sering minta gendong , digendong diam ditaruh menangis. Malam hari sering rewel selama ini dianggap haus atau minta minum susu
    • Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih
    • Kadang juga sebaliknya justru sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam.
    • Bibir sering kering. lidah putih dan mulut bau berbeda
    • Pada usia 2 tahun Sering NYERI PERUT.  dengan keluhan ingin BAB tetapi tidak jadi

Gangguan Hipersesitifitas lain yang menyertai

  • KULIT : Kulit timbul kemerahan seperti biang keringat, pipi sering brintusan atau kemerahan. bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Timbul warna putih pada kulit seperti ”panu”.  Perioral dermatitis timbul bintil kemerahan atau jerawat di sekitar mulut. Dipinggir kuku kulit sering terkelupas, kulit dibawah kuku bengkak bahkan sampai terlepas (paronichia)  Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal.
  • HIDUNG, TELINGA TENGGOROKAN  : Pilek lama lebih dari 2 minggu hilang timbul, bila pilek lama sering disertai sakit telingasering bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, SINUSITIS, hidung sering gatal digosok-gosok atau hidung sering digerak-gerakkan “rabbit nose”. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau. pada anak lebih besar kadang disertai gangguan  sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna). Telinga sering berdengung atau gemuruk .
  • SALURAN NAPAS  :
    • Pada bayi Napas sering berbunyi grok grok, batuk, sesak sejak usia 5 bulan
    • Pada usia 2 tahun sering batuk Batuk lama atau lebih 2 minggu hilang timbul,
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • MATA : Mata gatal, sering digoso gosok, saat bayi sedang belekan
 BERBAGAI GANGGUAN PERILAKU YANG MENYERTAI
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : anak mudah kaget, mengalami tick atau mata berkedip sejak usia 4 tahun
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
    • pada bayi : Mata sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala.
    • Pada Anak lebih besar :  Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}.
  • AGRESIF MENINGKAT
    • Pada Bayi :  sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”).
    • Pada Usia Balita : mudah memukul, menggigit, mencubit.
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game. dipanggil beberapa kali baru menoleh
  • EMOSI TINGGI : mudah marah, sering berteriak, mengamuk, tantrum, keras kepala, negatifisme dan mudah menyangkal (deny) sangat tinggi.
  • DEPRESI DAN MUDAH CEMAS :  mudah marah, sedih berlebihan,  mudah tersinggung, sering kesepian, mudah menangis meski masalahnya ringan
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu). Rasa perabaan sensoris kaki sangat sensitif (bila lantai kotor sedikit atau berpasir  sering geli dan harus pakai sandal), biasanya bila berjalan tidak menapak baik sehingga sering jalan tidak sempurna (jalan jinjit, miring, kaki O atau X), sandal atau sepatu seringkali ausnya tidak rata atau tidak seimbang kiri kanan.
  • GANGGUAN ORAL MOTOR :
    • KETERLAMBATAN BICARA : TERLAMBAT BICARA baru bisa bicara setelah usia 3 tahun, , bicara terburu-buru, cadel, kadang sedikit gagap.
    • GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, seringkali pilih bila makan hanya suka makan krispi, kerupuk atau yang renyah (sayur hanya wortel, brokoli, kentang, bayam). Tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. pada dewaqsa seringkali makan sangt cepat tanpa dikunyah
  • IMPULSIF : banyak bicara tetapi bicara tidak jelas hanya bergumam saat usia dibawah 2,5 tahun, tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain, bila bicara sangat cepat banyak dan sulit berhenti. Menangis dan tertawa berubah bergantian dengan cepat.
  • Sulit makan dan Gangguan kenaikkan berat badan

PENILAIAN ATAU DIAGNOSIS SEMENTARA

  • Gangguan tidur
  • Hipersensitifitas atau Alergi Saluran Cerna diduga penyebab utama gangguan tidur dan sulit makan dan gangguan kenaikkan berat badan

Mencari Penyebab

  1. Mencari penyebab gangguan tidur pada anak yang terbaik seharusnya mendeteksi penyebab gangguan tersebut bukan sekedar obat dan bukan vitamin.
  2. Setelah dilakukan anamnesa atau mengetahui riwayat kesehatan dengan cermat penderita tersebut ternyata sangat mungkin disebabkan karena alergi atau hipersensitifitas saluran cerna sebagai penyebab gangguan tidur pada anak
  3. Pada penderita tersebut diatas ternyata didapatkan gangguan fungsi pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan. Tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan tersebut adalah
    • perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin,
    • Kadang muntah atau atau kadangkala mual seperti hendak muntah bila disuapin makan. Kadang mudah timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah.
    • Sering nyeri perut seaat, bersifat hilang timbul. Sulit buang air besar (bila buang air besar ”ngeden”, tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering (>2 kali/perhari).
    • Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah.

Berbagai Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa karena sering terjadi pada banyak anak. Berbagai gangguan tesrebut ringan sehingga sering diabaikan. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang sangat mungkin berkaitan dengan gangguan tidur dan kesulitan makan pada anak.

DIAGNOSIS INSOMNIA ALERGI MAKANAN ATAU GANGGUAN TIDUR KARENA ALERGI MAKANAN

BACA  YOTUBE PILIHAN : ALERGI KULIT, DERMATITIS DAN ALERGI MAKANAN

Diagnosis insomnia alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi

  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Klinik Dr Widodo Judarwanto melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. Pemeriksaan tes kulit hanya memastikan adanya alergi, bukan untuk memastikan penyebab alergi. Karena pemeriksaan ini meski mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENANGANAN 

Beberapa langkah yang dilakukan pada penatalaksanaan anak mudah sakit dan kesulitan makan pada anak yang harus dilakukan adalah :

  1. Pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan dan gangguan tidur
  2. Cari penyebab anak gangguan tidur dan kesulitan makanan pada anak,
  3. Pemberian pengobatan terhadap penyebab
  4. Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau coeliac), dilakukan eliminasi provokasi makanan untuk mencari penyebab makanan yang menganggu hipersenitifitas saluran cerna
  5. hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.

GANGGUAN HIPERSENSITIFITAS SALURAN CERNA PENYEBAB PENTING SULIT MAKAN DAN GANGGUAN TIDUR PADA ANAK

  • Setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu dengan melakukan eliminasi provokasi makanan pada penderita selama 3 minggu, tampak perbaikan pada gangguan saluran cerna, diikuti perbaikkan kekebalan tubuh dan gangguan kesulitan makan membaik dan disertai kenaikkan BB.. Pada sebulan tedapat kenaikkan 1,250 kg pada bulan pertama. Anak menjadi jarang sakit. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa diperbaiki sekitar 40-60%. Mungkin gangguan ini akan membaik maksimal seiring dengan pertambahan usia.
  • Pemberian suplemen vitamin atau obat tertentu sering diberikan pada kasus kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya. Kadangkala pemberian vitamin atau obat-obatan justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin tersebut Bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.

PENILAIAN  TERAKHIR

  • Gngguan Tidur Malam dan Sulit makan pada penderita dipastikan karena hipersensitifitas saluran cerna dengan cara melakukan elimnasi provokasi makanan ternyata membaik
BACA  Sulit Makan, Gangguan Kenaikkan Berat Badan dan Alergi Makanan

Penanganan lainnya

  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey, meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara, tetapi umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.
  • Pengobatan gangguan tidur karena alergi makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila insomnia yang dialami disebabkan karena gangguan alergi makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat tidur nyenyak pada anak mungkin hanya bersifat sementara atau bahkan tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur pada anak karena alergi makanan tidak diperbaiki.

DAFTAR PUSTAKA

  • Motala, C: New perspectives in the diagnosis of food allergy. Current Allergy and Clinical Immunology, September/October 2002, Vol 15, No. 3: 96-100
  • Opper FH, Burakoff R. Food allergy and intolerance. Gastroenterologist. 1993;1(3):211-220.
  • Dardenne P, Guerin F. Insomnia in young children. Ann Pediatr (Paris). 1986 Oct;33(8):705-10.
  • Boyle J, Cropley M. Children’s sleep: problems and solutions. J Fam Health Care. 2004;14(3):61-3
  • Lecks HI.Insomnia and cow’s milk allergy in infants. Pediatrics. 1986 Aug;78(2):378.
  • Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”. 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004.
  • Kohsaka M. Food allergy insomnia. Ryoikibetsu Shokogun Shirizu. 2003;(39):110-3.
  • Wasilewska J, Kaczmarski M, Protas PT, Kowalczuk-Krystoń M, Mazan B, Topczewska M. Sleep disorders in childhood and adolescence, with special reference to allergic diseases. Pol Merkur Lekarski. 2009 Mar;26(153):188-93.
  • Dardenne P, Guerin F. Insomnia in young children. Ann Pediatr (Paris). 1986 Oct;33(8):705-10.
  • Boyle J, Cropley M. Children’s sleep: problems and solutions. J Fam Health Care. 2004;14(3):61-3
  • Lecks HI.Insomnia and cow’s milk allergy in infants. Pediatrics. 1986 Aug;78(2):378.
  • Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”. 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004.
  • Kohsaka M. Food allergy insomnia. Ryoikibetsu Shokogun Shirizu. 2003;(39):110-3.
  • Wasilewska J, Kaczmarski M, Protas PT, Kowalczuk-Krystoń M, Mazan B, Topczewska M. Sleep disorders in childhood and adolescence, with special reference to allergic diseases. Pol Merkur Lekarski. 2009 Mar;26(153):188-93.
Advertisements
Advertisements

Advertisements
Advertisements
Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Virtual Whatsapp, Chat Di Sini