ALERGI ONLINE

Flatus atau Buang Angin Berlebihan dan Hipersensitifitas atau Alergi Saluran Cerna

Advertisements

Buang angin atau Kentut adalah kejadian yang sangat normal dan alami yang terjadi pada bayi. Banyak faktor penyebabnya, dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Akan tetapi, kentut pada bayi bukan berarti bayi sakit. Gejala ini menunjukkan bahwa bayi mengeluarkan gas  berlebihan yang terperangkap di dalam. Frekuensi normal buang angin pada bayi mengeluarkan gas sekitar 13 hingga 21 kali setiap hari. Bila frekuensi lebih sering dan disertai gangguan saluran cerna lain seperti kembung, mual, muntah, GER, diare, konstipsi, rewel atau kolik maka biasanya berkaitan dengan hipersensitifitas saluran cerna. Penelitian awal yang pernah dilakukan penulis, gangguan kembung berlangsung hilang timbul lebih dari 2 minggu seringkali disertai gangguan hipersensitif saluran cerna, hipersensitif kulit dan saluran napas. Bila hal itu terjadi bersamaan biasanya gangguan kembung seringjali terjadi atau dikaitkan dengan bayi dengan riwayat kipersensitifitas sluran cerna atau alergi saluran cerna

Ketidakmatangan Saluran Cerna (imaturitas Saluran Cerna)

Banyak penyebab terjadinya gangguan kembung pada bayi, tetapi yang lebih sering adalah katrena ketidak matangan saluarn cerna pada bayi. Gangguan kembung sering kali disertai dengan gangguan hipersensitifitas saluran cerna lainnya seperti mual, muntah, diare, konstipasi, rewel atau sering bang angin. Berbagai gangguan  hipersensitifitas pada bayi itu  itu terjadi karena belum sempurnanya saluran cerna. Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen, virus dan bakteri masuk ke dalam tubuh. Dengan pertambahan usia, ketidakmatangan saluran cerna tersebut semakin membaik.

Pada usia setelah 3 bulan biasanya kebiasaan minum malam, atau terbangun malam hari seringkali akan mmbaik setelah usia 3 bulan. Biasanya setelah 2 tahun saluran cerna tersebut berangsur membaik. Hal ini juga yang mengakibatkan penderita alergi  sering sakit pada usia sebelum 2 tahun. Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa sewaktu bayi atau usia anak mengalami hipersensitifitas saluarn cerna atau alergi saluran cerna

Tanda dan gejala hipersensitifitas saluran cerna yang di alami bayi 

Advertisements
  • Sering muntah atau gumoh, dalam keadaan tertentu sering disebut gastrooesephageal refluks
  • Sering kembung, dan perut berbunyi “keroncongan” saat digendong atau diraba.
  • Sering buang angin. Frekuensi normal buang angin pada bayi mengeluarkan gas sekitar 13 hingga 21 kali setiap hari
  • Sering “cegukan” (hicup) bila sering cegukan biasanya bayi sulit untuk disendawakan.
  • Sering “ngeden” atau “mulet”. Pada penderita dengan ngeden yang berlebihan seringkali disertai gangguan kulit kuning yang berkepanjangan atau kuning yang tinggi saat pulang dari kelahiran ke rumah. Bila ngeden berlebihan tekanan perut akan meningkat sehingga beresiko terjadi Hernia Umbilikalis (pusar menonjol, “pusar bodong”), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”)  atau terjadi hidrokel atau pem,besaran karena cairtan pada pada kantong buah zakar. Pada beberapa kasus juga gangguan ini mengakibatkan  pusar yang mengeluarkan bercak darah sedikit pada usia di bawah 1-2 bulan. Beberapa kasus yang lain keadaan ini seringkali mengakibatkan pusar masih basah dan sulit kering.
  • Sering REWEL dan  GELISAH atau COLIK
  • Sering buang air besar (> 3 kali perhari)
  • Tidak BAB tiap hari, bahkan kadang sampai 3- 5 hari lebih. Pada keadaan tertentu sering dikelirukan dengan Penyakit Hiscrhprung. Bila terdapat berbagai gangguan hipersensitifitas saluran cerna lainnya sebaiknya bila diagnosis  Penyakit Hiscrhprung meragukan segera mencari “second opinion” ke dokter lainnya.
  • Feses berwarna hijau, kadang berlendir, berbau tajam
  • BERAK DARAH.
  • Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).

Tanda dan Gejala lain yang sering menyertai

  • Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Hiperreaktifitas Bronkus. Napas bunyi  grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS) Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu)  Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah.
  • Bersin dan sering buka mulut. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Kepala yang sering miring ke salah satu sisi ini  akan mengakibatkan kepala “peyang” atau mata juling ringan.
  • Mulut sering terbuka. Karena hidung buntu, muluit sering terbuka bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
  • Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
  • Sering berkeringat (berlebihan)
  • Tanda Haus Palsu atau Bayi sering minta minum berlebihan padahal tidak haus. Bayi sulit dibedakan apakah karena haus atau karena ada yang tiodak nyaman di perutnya. Dalam keadaan ini seringkali ibu tidak percaya diri saat memberi ASI, karena meski sudah diberi minum lama tetapi bayi tetapi menangis terus seperti minta minum. Hal inilah yang sering mengacaukan ASI ekslusif, akhirmnya ibu tidak tega dan memberi minuman botol. Pada bayi dengan gangguan hipersensitifitas saluran cerna ini biasanya mengalami rasa tidak nyaman di perut. Sehingga mengakibatkan sering rewel atau sering seperti minta minum. Mulut sering terbuka dan mencari minum, biasanya bayi sering hanya ingin “ngempeng”. Namun bila diberi ASI sering hanya mau sesaat tapi setelah itu menolak karena memang tidak haus, tetapi saat disodori minum botol langusng minum karena perbedaan bsaat minum botol susu keluar dengan sendirinya sehingga bayi terpakasa menghisap. Tetapi saat diberi ASI bayi tidak mau menyedot karena untuk keluar ASI harus mengeluarkan tenaga hisapan, dan bayi tidak mau menghisap karena memang tidak haus. Karakteristik lainnya biasanya bayi minum sangat lama lebih dari 30 menit hingga 1 jam, krena hanya ngempeng tidak minum. Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Mempengaruhi gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
BACA  Alergi dan OCD

GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU RINGAN YANG SERING MENYERTAI  PENDERITA HIPERSENSITIFITAS SALURAN CERNA PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO FUNGSIONAL : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kakuBreath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN  Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.  Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.  Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
  • GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan  sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan.
  • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN  sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya baru bisa bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjala

Berbagai tanda dan gejala tersebut seringkali timbul dan berkurangnya secara bersamaan. Gangguan tersebut dapat meningkat atau lebih terganggua karena2 hal utama

  • Bila berbagai gangguan tersebut ringan biasanya penyebabnya karena reaksi akibat makanan bisa karena susu formula yang dikonsumsi atau makanan ibu yang dapat melalui ASI yang ikut terkonsumsi bayi.
  • Bila berbagai gangguan tersebut tidak ringan biasanya penyebabnya karena bayi mengalami infeksi virus ringan  atau flu. Gangguan flu atau infeksi saluran napas pada bayi sangat ringan kadang hanya berupa bersin lebih sering, batuk hanya sekali-sekali, napas bunyi grok-grok semakin keras terdengar. Bayi biasanya teraba kepala atau badannya agak sedikit hangat tetapi bila diukur dengen termometer suhunya normal. Bila ini terjadi biasanya terdapat orang dekat bayi yang mengalami sakit flu ringan. Bisa saja kakak, ayah, ibu, nenek atau pengasuh yang sering menggendong. Flu atau infeksi virus ringan pada orang dewasa kadang hanya berupa badan ngilu, pegal atau sering dikira kecapekan. Biasanya kadang disertai nyeri tenmggorokan, sakit kepala dan hanya berlangsung 1-2 hari saja, atau sering diangga flu tidak jadi.
BACA  Depresi dan Kecemasan Bisa Dipengaruhi Alergi Makanan

Penanganan

Jika bayi Anda kentut terus-menerus, itu bisa berarti dia terlalu banyak mengeluarkan gas dari yang seharusnya. Perut kembung mempengaruhi semua bayi pada suatu waktu atau lainnya. Namun, ada beberapa tips sederhana yang bisa Anda ikuti untuk meredakan buang angin atau kentut bayi yang berlebihan

  • Sendawakan bayi. Salah satu cara terbaik untuk meredakan gas adalah dengan membuat bayi bersendawa saat mereka menyusui dan setelahnya. Alih-alih membuatnya bersendawa saat mereka makan, tunggulah sampai mereka istirahat atau memperlambat. Jika tidak, mereka mungkin marah, menangis, dan menelan lebih banyak udara dalam prosesnya. Gunakan posisi bersendawa yang paling nyaman bagi mereka. Pijat juga bisa membantu meredakan gas pada bayi Anda. Setelah setiap menyusu, buat bayi Anda bersendawa dengan menepuk punggungnya secara lembut. Sekali lagi sebelum mengganti payudara atau di tengah-tengah pemberian susu botol, gosok punggung bayi Anda dengan lembut dan tepuk punggungnya untuk membuatnya bersendawa karena membantu menghilangkan gas.
  • Pijat perut bayi secara perlahan dengan gerakan searah jarum jam. Sama seperti gerakan sebelumnya, cara ini dapat dilakukan dengan posisi tidur.
  • Usap-usap punggung dengan meletakkan bayi di atas kedua paha Anda dengan posisi perut menghadap ke bawah atau telungkup.
  • Menggosok Perut Bayi.  Pijat perut bayi Anda dengan lembut dengan gerakan memutar searah jarum jam dari sisi kanan di bawah tulang rusuk ke sisi kiri. Ini akan memungkinkan gelembung gas bergerak di sepanjang saluran pencernaan.
  • Letakkan bayi di kasur dengan posisi tidur telentang. Angkat kedua kakinya dan gerakkan seperti sedang mengendarai sepeda. Gerakan ini dapat membantu mengeluarkan gas dari perut bayi. Teknik ini, yang dikenal sebagai kaki-kaki sepeda, melakukan keajaiban dalam menghilangkan gas. Pertama, letakkan bayi Anda di atas permukaan yang kokoh. Kemudian pegang kaki bayi dan perlahan-lahan buat mereka maju mundur dengan gerakan mengayuh. Kemudian tekuk kaki bayi Anda ke arah dadanya. Ulangi tindakan ini beberapa kali lagi sepanjang hari, tetapi ingatlah untuk tidak melakukannya tepat setelah menyusui.
  • Tendangan Katak (Frog Kick) Tempatkan bayi Anda di lantai. Kemudian pegang kaki bagian bawahnya, dengan lembut gerakkan sedikit searah jarum jam, dari dada ke pinggul kanan, ke lutut, ke pinggul kiri, dan kembali ke dada. Pastikan gerakannya lembut, dan jangan meregangkan kaki bayi secara berlebihan. Kemudian perlahan regangkan kaki ke atas dan angkat pantat bayi sekitar satu inci dari lantai. Terakhir, akhiri dengan menekuk lututnya dan membawanya ke dadanya.
  • Latihan Lainnya  Jika ‘mengayuh’ dan ‘tendangan kodok’ tidak membantu, maka Anda dapat mencoba beberapa latihan lagi untuk melakukannya –
    • Peregangan Toe to Nose. Pegang pergelangan kaki bayi Anda dan regangkan kakinya tegak. Kemudian, coba sentuh jari-jari kakinya ke hidung dengan lembut. Peregangan ini memberi tekanan pada perut bayi dan membantu meredakan gas yang menumpuk.
    • Toe to Shoulder Jika Anda tidak dapat menyentuh jari kaki bayi ke hidungnya, Anda dapat mencoba teknik ini. Pegang pergelangan kaki dan regangkan dengan lembut kaki bayi lurus. Kemudian angkat, dan coba sentuh bahunya. Anda juga dapat mencoba versi berselang-seling dengan menyentuhkan jari kaki kiri ke bahu sisi kanan dan jari kaki kanan ke bahu sisi kiri.
    • Toe to Hip. Untuk latihan ini juga, regangkan kaki bayi Anda dengan lembut terlebih dahulu. Kemudian perlahan-lahan bawa keduanya ke satu sisi pinggul dan kemudian bawa ke sisi lainnya.
    • Babywearing Nyeri akibat gas semakin parah saat bayi berbaring telentang. Untuk menghindarinya, cobalah balutan pakaian bayi. Balutan ini memungkinkan Anda menggendong bayi dalam posisi tegak dan merupakan cara yang bagus untuk mengeluarkan dan mengeluarkan gas.
    • Tummy Time. Waktu perut tidak hanya penting dalam memperkuat tubuh bagian atas bayi tetapi juga membantu dalam mengeluarkan gas yang bersarang di perutnya. Yang perlu Anda lakukan adalah menidurkan bayi Anda setidaknya selama 20 menit setiap hari. Anda dapat menggunakan alas empuk jika Anda meletakkannya di lantai atau menggunakan tempat tidur sebagai gantinya. Bagaimanapun, jangan tinggalkan bayi sendirian dan taruh dia di punggungnya lagi setelah 20 menit. Anda dapat melakukan latihan ini beberapa kali lebih banyak di siang hari.
    • Goyang dan Pantul (Rocking and Bouncing ) Mengayun dan memantul dapat membantu bayi Anda mengeluarkan gas. Latihan ini dapat dilakukan untuk bayi yang tidak membutuhkan dukungan leher dan sudah mulai memantul. Gendong bayi Anda di tempat tidur atau di lantai yang empuk dan dengan lembut pegang atau pegang dia. Jika bayi tidak dapat melakukan latihan ini, Anda dapat menggendongnya dan mengayunnya. Anda juga dapat menggunakan kursi goyang untuk menggoyangkan bayi Anda ke depan. Saat Anda duduk di kursi, pegang bayi erat-erat di dada Anda, dalam posisi vertikal dan goyangkan perlahan ke depan dan ke belakang. Anda juga dapat menggosok atau menepuk punggungnya untuk membantu meredakan gas yang terkumpul di perut bayi Anda.
  • Probiotik Dalam kasus bayi yang lebih bear, yang mengonsumsi makanan padat untuk sebagian besar makanannya, Anda dapat mempertimbangkan untuk memberikan probiotik. Probiotik dapat menyembuhkan kolik dengan menghilangkan gas dan membantu memelihara bakteri baik dalam sistem pencernaan bayi.
BACA  Patofisiologi Reaksi Anafilaksis Terhadap Makanan

Terapi Herbal

  1. Gosok Asafoetida Anda sudah tahu tentang menggosok atau memijat perut bayi Anda. Obatnya sama, tetapi Anda menggunakan satu sendok teh asafoetida yang dicampur dengan air hangat untuk memijat perut bayi. Pasta juga bisa dioleskan ke pusar bayi. Biarkan selama beberapa menit dan bersihkan dengan waslap.
  2. Minuman Air Hangat Jika bayi Anda cukup besar untuk minum air, Anda dapat memberinya air hangat untuk diminum setiap habis makan. Air hangat menenangkan perut, usus dan juga memudahkan pencernaan pada bayi.
  3. Mandi Air Hangat  Mandi air hangat membantu merilekskan dan menenangkan perut dan isi perut bayi. Ambil air hangat di bak mandi bayi Anda dan rendam tubuh bagian bawahnya. Obat ini dapat membantu mengobati sembelit pada anak-anak dan juga menenangkan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh akumulasi gas di perut.

Bila gangguan cegukan berlangsung lebih dari 2 minggu menetap dan disertai tanda dan gejala hipersensitifitas saluran cerna lainnya, hipersensitifitas kulit dan hipersensitifitas saluran napas, maka alergi makanan bisa dicurigai sebagai penyebab gangguan tersebut.

 

Referensi

  • Hideaki Morita 1, Ichiro Nomura, Akio Matsuda, Hirohisa Saito, Kenji Matsumoto. Gastrointestinal food allergy in infants. Allergol Int. 2013 Sep;62(3):297-307. doi: 10.2332/allergolint.13-RA-0542.
  • Rosan Meyer Adriana Chebar Lozinsky David M. Fleischer Mario C. Vieira George Du Toit Yvan Vandenplas Christophe Dupont Rebecca Knibb Piınar Uysal Ozlem Cavkaytar. Diagnosis and management of Non‐IgE gastrointestinal allergies in breastfed infants—An EAACI Position Paper European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), First published: 14 June 2019 https://doi.org/10.1111/all.13947
  • Sicherer SH: Clinical aspects of gastrointestinal food allergy in childhood. Pediatrics 111(6 Pt 3), 1609-1616 (2003).  Excellent review article focusing on the various gastrointestinal disorders of food allergy according to the child age.
  • Heine RG: Pathophysiology, diagnosis and treatment of food protein-induced gastrointestinal diseases. Curr. Opin. Allergy Clin. Immunol. 4(3), 221-229 (2004).
  • Sicherer SH: Food allergy. Lancet 360(9334), 701-710 (2002).Excellent review that provides a general scheme for the diagnosis of food allergy.
  • Almot PL, Kemeny DM, Zachary C, Parkes P, Lessof MH: Oral allergy syndrome (OAS): symptoms of Ig-E mediated hypersensitivity to food. Clin. Allergy 17(1), 33-42 (1987).
  • Sicherer SH, Sampson HA: Food allergy. J. Allergy Clin. Immunol. 117(2 Suppl.), S470-S475 (2006).
  • Assa’ad AH: Gastrointestinal food allergy and intolerance. Pediatr. Ann. 35(10), 718-726 (2006).
Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *