ALERGI ONLINE

Artritis Rematoid dan Alergi Makanan

Advertisements

 

Pengaruh alergi makanan dan gangguan nyeri banyak sekali diungkapkan dalam penelitian klinis. Peran alergi makanan atau reaksi simpang makanan terhadap nyeri khususnya Rhematoid Artritis juga bahyak diungkapkan dalam berbagai penelitian. Sampai saat ini masih belum banyak terungkap mengala pengarug alergi makanan dapat memicu kekambuhan rematoid artritis.

Artritis reumatoid merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan sendi dalam jangka waktu yang lama. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang. Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada penderita stadium lanjut akan membuat si penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya menurun. Gejala yang lain yaitu berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah dan kurang darah. Diperkirakan kasus RA diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk Indonesia.

Penelitian

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar uji coba terkontrol plasebo double-blind telah menunjukkan bahwa 30-40% pasien rheumatoid arthritis (RA) dapat meningkat secara substansial dengan menggunakan diet eliminasi untuk mengidentifikasi makanan yang mengendapkan gejala dan menghindari makanan ini. Beberapa pasien seperti itu telah menghentikan terapi obat dan tetap sehat selama 12 tahun atau lebih. Sebelum diet eliminasi, sebagian besar pasien tidak mengenali diet sebagai pemicu gejala mereka, karena makanan yang menyinggung dimakan setiap hari. Makanan yang dimakan jarang juga dapat memicu sensitivitas, sehingga menyebabkan artritis episodik.

Advertisements

Selain itu, banyak pasien RA sensitif terhadap beberapa makanan, membuat diet eliminasi ketat yang penting untuk diagnosis. Pola respons terhadap diet eliminasi (30-40% pasien RA merespons dengan baik; respons terjadi dalam 10-21 hari; manfaat dipertahankan jika makanan yang menyinggung dihindari) sangat berbeda dari pola respons terhadap puasa (hampir semua Pasien RA merespons dengan baik; respons terjadi dalam 3-5 hari; manfaat hilang dengan cepat ketika diet normal dilanjutkan). Jelas puasa dan diet eliminasi memiliki mekanisme terapi yang berbeda. Efek puasa dapat dimediasi oleh tidak adanya lemak makanan, yang menyebabkan kekurangan prostaglandin dan leukotrien pro-inflamasi.

BACA  Rheumatoid Arthritis, Alergi Makanan dan Reaksi Simpang Makanan

Mekanisme di mana sensitivitas makanan terlibat dalam rheumatoid arthritis masih belum diketahui, tetapi penurunan berat badan jelas tidak bertanggung jawab atas perbaikan yang terlihat pada diet eliminasi. Beberapa bukti berimplikasi pada flora usus. Pasien RA yang peka terhadap makanan juga dapat menunjukkan perubahan dalam parameter imun selama diet eliminasi, tetapi belum ada perubahan universal yang konsisten yang ditemukan.

Daftar Pustaka

  • L Gamlin 1, J Brostoff. Food Sensitivity and Rheumatoid Arthritis.  Environ Toxicol Pharmacol. 1997 Nov;4(1-2):43-9. doi: 10.1016/s1382-6689(97)10040-0.
Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *