ALERGI ONLINE

Alergi dan OCD

Studi pendahuluan ini menunjukkan hubungan antara penyakit alergi dan TS dan OCD. Hasil mengungkapkan perbedaan dalam hubungan antara jenis penyakit alergi (rinitis atau eksim) dan gangguan neuropsikiatri (gangguan tic atau OCD).

Penyakit alergi termasuk asma, rinitis alergi dan eksim pada anak-anak dan remaja yang didiagnosis dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) dan / atau sindrom Tourettedibandingkan dengan subyek control. Meskipun hanya seperlima dari subyek kontrol memiliki penyakit alergi, lebih dari setengah anak-anak dengan TS dan / atau OCD memiliki penyakit alergi komorbiditas. Tes tusuk kulit positif lebih besar pada pasien OCD dibandingkan dengan subyek kontrol. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok dalam hal jumlah eosinofil atau tingkat IgE. Di antara penyakit alergi, sementara rinitis alergi didiagnosis pada tingkat yang secara signifikan lebih tinggi pada pasien TS, eksim secara signifikan lebih tinggi pada pasien OCD dibandingkan dengan subyek kontrol.

OCD

  • Gejala OCD meliputi pikiran yang mengganggu dan timbul terus menerus (obsesif), serta perilaku yang dilakukan berulang-ulang (kompulsif). Namun, beberapa penderita OCD hanya mengalami pikiran obsesif tanpa disertai perilaku kompulsif, atau sebaliknya.
  • Pikiran dan perilaku ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, dan hubungan sosial penderita, baik disadari maupun tidak.

Pikiran Obsesif

Obsesif adalah gangguan pikiran yang terjadi terus menerus dan menimbulkan rasa cemas atau takut. Semua orang kadang mengalami hal ini, tetapi pada penderita OCD, pikiran tersebut muncul berulang-ulang dan menetap. Pikiran obsesif bisa tiba-tiba muncul ketika penderita OCD sedang memikirkan atau melakukan hal lain.

Advertisements

Beberapa pikiran obsesif antara lain:

  • Takut kotor atau terkena penyakit, misalnya menghindari bersalaman dengan orang lain atau menyentuh benda yang disentuh banyak orang.
  • Sangat menginginkan segala sesuatu tersusun selaras atau teratur dan tidak senang bila melihat sekumpulan benda menghadap ke arah yang berbeda.
  • Takut melakukan sesuatu yang bisa berdampak buruk pada diri sendiri dan orang lain, misalnya merasa ragu apakah sudah mematikan kompor atau mengunci pintu.
  • Perilaku Kompulsif
  • Kompulsif adalah perilaku yang dilakukan berulang-ulang, guna mengurangi rasa cemas atau takut akibat pikiran obsesif. Perasaan lega sesaat bisa muncul setelah melakukan perilaku kompulsif, namun kemudian gejala obsesif akan muncul kembali dan membuat penderita mengulangi perilaku kompulsif.
  • Penderita OCD bisa saja menyadari bahwa perilaku yang mereka lakukan berlebihan. Akan tetapi, mereka merasa harus melakukannya dan tidak dapat menghentikannya.

Gejala perilaku kompulsif meliputi:

  • Mencuci tangan berkali-kali sampai lecet.
  • Menyusun benda menghadap ke arah yang sama.
  • Memeriksa berulang kali apakah sudah mematikan kompor atau mengunci pintu.
  • Gejala gangguan obsesif kompulsif sering kali menyerang di awal usia dewasa dan cenderung memburuk seiring usia penderita bertambah. Selain memburuk seiring bertambahnya usia, gejala OCD juga semakin parah bila penderita mengalami stres.

Kemungkinan patofisiologi yang dimediasi-imun dari gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan terkait telah meningkat. Pada akhir 1980-an, National Institute of Mental Health melaporkan peningkatan gejala obsesif-kompulsif (OCS) pada pasien dengan Sydenham chorea (SC). Selanjutnya, infeksi streptokokus yang mengendap pada anak-anak dengan onset OCS yang tiba-tiba tetapi tidak ada chorea mengarah ke coining PANDAS (Gangguan neuropsikiatrik autoimun pediatrik terkait dengan infeksi streptokokus). keterkaitan ini telah memajukan minat pada tindakan biologis untuk kerentanan kekebalan dan genetik pada pasien gangguan obsesif-kompulsif (OCD) non-PANDAS. Selain itu, beberapa penelitian mencoba untuk menunjukkan perubahan parameter kekebalan pada pasien OCD, dengan beberapa hasil positif. Dalam ulasan naratif ini, tujuan kami adalah untuk menggambarkan temuan imunologis dalam OCD, PANDAS, dan hubungannya dengan SC.

Referensi

  • Yuce M1, Guner SN, Karabekiroglu K, Baykal S, Kilic M, Sancak R, Karabekiroglu A. Association of Tourette syndrome and obsessive-compulsive disorder with allergic diseases in children and adolescents: a preliminary study. Eur Rev Med Pharmacol Sci. 2014;18(3):303-10.




.


.

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *