Sulit Makan dan Alergi Saluran Cerna Pada Lansia

Sulit Makan dan Alergi Saluran Cerna Pada Lansia

Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan

 
Latar Belakangwp-1559363691580..jpg
  • Ibu Zubaedah, berusia 70 tahun mengalami sulit makan sejak 6 bulan terakhir ini, Telah berbagai dokter dikunjungi baik dokter penyakit dalam, dokter ahli gizi bahkan sudah berbagai vitamin nafsu makan dan obat tradisional ternyata hasilnya nihil juga. Saat berkonsultasi dengan dokter lainnya dinyatakan si Ibu mengalami alergi saluran cerna dan diadviskan untuk dilakukan penanganan alergi saluran cerna dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan sulit makan tersebut membaik dan berat badan naik.

Fungsi tubuh kita berubah seiring bertambahnya usia. Masalah makan yang disebabkan oleh penurunan fungsi fisiologis umum terjadi pada orang tua. Hal ini dapat mengakibatkan diet yang tidak seimbang yang selanjutnya dapat mempengaruhi status gizi. Dengan modifikasi diet yang tepat, masalah makan ini dapat diatasi.

Hingga 40% pasien lansia di rumah sakit akut mengalami malnutrisi (McWhirter dan Pennington, 1994). Beberapa dari mereka mungkin dirawat dalam kondisi ini, yang lain menjadi kurang gizi saat di rumah sakit (Asosiasi Dewan Kesehatan Masyarakat Inggris dan Wales, 1997). Sementara tingkat metabolisme yang lebih rendah dan sedikit olahraga mengurangi jumlah makanan yang dibutuhkan, pengurangan ini harus dalam lemak dan karbohidrat. Pasokan protein, vitamin, mineral, dan cairan yang cukup masih penting. Malnutrisi adalah masalah di antara orang tua, terutama di panti jompo (Kayser-Jones, 1996) dan dapat menyebabkan penyembuhan luka yang lebih lambat, tingkat infeksi yang lebih tinggi dan perkembangan ulkus tekan. Di antara penyebab asupan makanan yang tidak memadai adalah ‘masalah makan’, kesulitan mentransfer makanan dari piring ke mulut dan menelannya.

Phonto-15.jpgDi panti jompo atau bangsal rumah sakit beberapa pasien mungkin perlu diberi makan secara individual. Beberapa mungkin juga mengalami kesulitan menelan. Seringkali seorang perawat siswa atau asisten perawatan junior diminta untuk memberi makan pasien ini. Terlihat sebagai tugas yang harus dilalui secepat mungkin, bahkan perawat berpengalaman dapat mencoba memaksa pasien untuk menelan. Melayang dengan sesendok berikutnya memperburuk masalah menelan.

Kehilangan gigi dan gigi palsu yang tidak pas bisa membuat mengunyah terasa tidak nyaman. Bau dan rasa yang berkurang mungkin cenderung membuat makanan menjadi hambar dan tidak menggoda. Pada beberapa orang air liur berkurang atau lebih tebal dapat membuat mulut kering, meningkatkan kesulitan menelan. Ini dapat menyebabkan makanan rendah serat dipilih, menghasilkan sembelit. Relaksasi yang tidak lengkap dari sfingter gastro-esofagus dapat membuat sulit menelan, sementara melemahnya sfingter dapat menyebabkan refluks makanan dan asam lambung.

Pasien dengan masalah menelan dapat termasuk mereka yang menderita kanker, stroke yang mempengaruhi motor cortex atau pusat deglutition, penyakit Parkinson, arthritis dan beberapa gangguan otot. Obat-obatan, seperti antihipertensi dan diuretik, dapat menyebabkan kekeringan pada mulut. Pada pasien dengan demensia, kesulitan makan berubah ketika kondisinya berkembang. Mulai dari penolakan untuk makan, memalingkan kepala, menjaga mulut tetap tertutup, mengeluarkan makanan hingga membiarkan mulut terbuka dan tidak menelan. Jika pasien dapat makan sendiri, mereka membutuhkan dorongan dan pemantauan. Jika mereka diberi makan, penting ini harus dilakukan dengan aman.

wp-11..jpgAmati Tanda Dan Gejala Gangguan Sulit Makan pada Lansia

    • Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak dan menepis suapan dari orangtua atau sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut.
    • Makan berlama-lama  dan memainkan makanan.
    • Kesulitan menelan hanya mau makan makanan cair, lumat dan tidak berserat.
    • Gangguan mengunyah menelan :  Tidak menyukai variasi banyak makanan. Sering pilih-pilih makanan. Makanan yang disukai adalah makanan yang gampang dikunyah seperti telor, mi, krupuk, biskuit, brokoli, wortel. tetapi makanan yang berserat seperti daging sapi, sayur, atau nasi lebih tidak disukai. Masalah dengan fase menelan oral atau faring  dapat berasal dari neurologis atau mekanis. Penilaian diperlukan dari terapis wicara dan bahasa (North et al, 1996). Menelan menggunakan banyak otot dan saraf yang sama dengan bicara. Seorang ahli radiologi mungkin diperlukan untuk analisis fluoroskopi dari menelan barium. Jika makanan perlu disesuaikan, empat faktor utama perlu dipertimbangkan: rasa, tekstur, kepadatan dan suhu. Makanan tidak boleh hambar: asin, manis dan asam rasanya semua dikunyah dan ditelan. Produk susu meningkatkan sekresi lendir, yang, dalam beberapa keadaan, dapat meningkatkan kesulitan menelan, sementara cairan berminyak, seperti kaldu daging, membuat sekresi lebih tipis. Tekstur diperlukan untuk merangsang sensasi oral: likuidasi tidak boleh terlalu teliti. Kepadatan makanan memberikan resistensi untuk merangsang mulut dan lidah. Meskipun tidak boleh terlalu panas, suhu makanan harus cukup di atas atau di bawah suhu tubuh, jika tidak orang tersebut mungkin tidak menyadarinya di mulut. Karena pemberian makan mungkin memakan waktu, wadah yang terisolasi harus digunakan untuk menjaga kontrol suhu.

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang disebabkan karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

(Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  1. GERD, IBS, dispepsia, sakit maag, orang awam menyebutnya dengan krang enzim, telat makan atau penyakit asam lambung
  2. Mudah MUNTAH  atau  MUAL pagi hari.
  3. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT,
  4. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA LANSIA
  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di selangkangan, tangan dan kaki
  • SALURAN NAPAS :napas sering berbunyi, sering baruk berdehem karena banyak lendir di tenggorokan
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah sakit kepala, vertigo, emosi tinhggi mudah marah
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS SALURAN CERNA PADA LANSIA
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : Nyeri tulang, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri khususnya pada lutut, telapak kaki, oinggang, punggung, panggul dan tulang belikat tangan sehingga sulit menggerakkan tangan ke atas Fatigue, kelemahan otot, nyeri, bengkak, kemerahan local pada sendi, stiffness, joint deformity; arthritis soreness, nyeri dada
  • otot bahu tegang, otot leher tegang, spastic umum, , limping gait, gerak terbatas
  • SALURAN KENCING : Serg minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac).
  • FATIQUE :  mudah lelah , mudah mengantuk atau kelelahan
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA LANSIA
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, vertigo
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/), keras kepala,
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
KOMPLIKASI  SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA LANSIA
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN : BATUK PILEK BERKEPAJANGAN, MUDAH SAKIT PANAS, BATUK, PILEK  (INFEKSI BERULANG) ; 1-2 kali setiap bulan). SEBAIKNYA TIDAK  TERLALU  MUDAH  MINUM ANTIBIOTIKA. PENYEBAB TERSERING INFEKSI BERULANG ADALAH VIRUS YANG SEBENARNYA TIDAK PERLU ANTIBIOTIKA.
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING. 
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA LANSIA BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN

Bila tanda dan gejala gangguan sulit makan dan gangguan kenaikkan berat badan tersebut terjadi pada anak anda dan disertai salah satu gangguan saluran cerna serta beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin gangguan makan dan gangguan kenaikkan berat badan pada anak disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan. Penyebab lain yang paling sering selain alergi dan hipersensitifitas makanan adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek, diare atau muntah dan infeksi lainnya

1557032467733-8.jpg
  • Penanganan gangguan sulit makan karena alergi makanan pada lansia haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Bila berbagai gangguan sulit makan lansia disertai gangguan saluran cerna maka gangguan tersebut biasanya berkaitan dengan reaksi alergi atau hipersensitifitas makanan. Bila hal itu terjdi maka sebaiknya dilakukan intervensi eliminasi provokasi makanan lihat dan baca eliminasi dan provokasi makanan pada dewasa
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada lansia harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.

Obat

  • Pengobatan gangguan sulit makan karena alergi dan hipersensitifitas makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan, vitamin, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat berat badan naik, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk menangani sulit makan pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama  alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

DAFTAR PUSTAKA     

  • Weetch R. Feeding problems in elderly patients. Nurs Times. 2001 Apr 19-25;97(16):60-1.
  • Chang CC. Prevalence and factors associated with feeding difficulty in institutionalized elderly with dementia in Taiwan. J Nutr Health Aging. 2012 Mar;16(3):258-61.
  • Motala, C: New perspectives in the diagnosis of food allergy. Current Allergy and Clinical Immunology, September/October 2002, Vol 15, No. 3: 96-100
  • Opper FH, Burakoff R. Food allergy and intolerance. Gastroenterologist. 1993;1(3):211-220.
  • Carruth BR, Ziegler PJ, Gordon A, Barr SI.. Prevalence of picky eaters among infants and toddlers and their caregivers’ decisions about offering a new food. J Am Diet Assoc. 2004 Jan;104(1 Suppl 1):s57-64.
  • Chatoor I, Ganiban J, Hirsch R, Borman-Spurrell E, Mrazek DA.. Maternal characteristics and toddler temperament in infantile anorexia. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2000 Jun;39(6):743-51.
  • Carruth BR, Skinner J, Houck K, Moran J 3rd, Coletta F, Ott D.. The phenomenon of “picky eater”: a behavioral marker in eating patterns of toddlers.
    J Am Coll Nutr. 1998 Apr;17(2):180-6.
  • Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh Bulimia: A Guide to Recovery Carlsbad, CA: Gürze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support groups.
     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s