Hipersensitif Gigi Dan Mulut Pada Penderita Alergi Saluran Cerna

Hipersensitif Gigi Dan Mulut Pada Penderita Alergi Alergi Saluran Cerna

Reaksi hipersensitivitas mulut atau gigi adalah reaksi abnormal sistem kekebalan yang terjadi sebagai respons terhadap paparan zat yang tidak berbahaya aytau karena alergi makanan. Reaksi-reaksi ini mencakup reaksi alergi dan non-alergi lainnya dan tingkat keparahannya dapat berkisar dari yang ringan hingga yang mengancam jiwa. Gangguan hipersensitif mulut dan gigi seringkali disertai hipersensitifitas saluran cerna lainnya Gangguan tersebut seringkali bersamaan munculnya disebabkan karena hipersensitif makanan dan dipicu infeksi virus.

wp-1559363691580..jpgGangguan saluran cerna khususnya mual, muntah, nyeri perut, nyeri ulu hati adalah gangguan yang banyak di alami oleh masyarakat umum. Gangguan tersebut sering diistilahkan masyarakat awam dengan gangguan “telat makan”, “masuk angin”, “kurang enzim”, “gangguan asam lambung” atau “sakit maag”. Gangguan ini dalam istilah kedokteran sering diistilahkan dengan berbagai gangguan seperti Dispepsia, Gastritis, GERD atau IBS.  Ternyata gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi saluran cerna atau hipersensitif saluran cerna. Karena , saat gangguan itu muncul juga disertai gangguan alergi lainnya seperti sensitif hidung (hidung buntu, mampet, bersin), gangguan kulit, gangguan hormonal (gangguan menstruasi, keputihan,), sakit kepala atau migrain, artritis (nyeri tulang, kaki, tangan atau punggung), gangguan emosi, kecemasan, depresi, kepanikan, paranoid (mudah ceriga) dan gangguan tidur. Gangguan itu seringkali dipicu dengan adanya infeksi virus ringan seperti Flu, nyeri tenggorokan, sakit kepala, badan ngilu dan lelah atau capek.

Reaksi hipersensitivitas paling parah disebut “anafilaksis” dan reaksi alergi ini biasanya dimulai segera setelah terpapar alergen. Reaksi hipersensitivitas di dalam dan sekitar mulut dapat menghasilkan berbagai penampilan klinis termasuk kemerahan atau keputihan mukosa; pembengkakan bibir, lidah, dan pipi; dan / atau bisul dan lepuh.

Jenis Reaksi Hipersensitif Mulut dan Gigi

  • Stomatitis: Tanda-tanda khas stomatitis adalah kemerahan dan pembengkakan yang mungkin melibatkan bagian mulut mana pun (lihat Kanan) termasuk lidah, atap mulut, pipi, dan bibir (cheilitis). Kadang-kadang terbentuk lepuh dan bisul. Individu yang terkena mungkin mengeluh sensasi terbakar dan sensitivitas mulut terhadap makanan dingin, panas, dan pedas.
  • Reaksi lichenoid: Lesi-lesi ini menyerupai lichen planus dan terdiri dari garis-garis agak naik, tipis, keputihan yang menyatu membentuk pola mirip lacel. Kadang-kadang borok terletak di dalam lesi dan dikelilingi oleh garis keputihan (lihat Kanan). Lesi lichenoid ditemukan paling umum pada mukosa pipi tetapi dapat terjadi di seluruh mulut.
  • Angioedema: Angioedema adalah pembengkakan yang lembut, tidak nyeri, dan tidak gatal yang biasanya melibatkan bibir, lidah, atau pipi. Ini biasanya berkembang dengan cepat dan dapat menjadi peristiwa serius yang membutuhkan perawatan darurat, jika pembengkakan menyebar ke laring dan mengakibatkan kesulitan bernapas yang parah.
  • Erythema multiforme: Pada eritema multiforme baik kulit dan mulut mungkin terpengaruh. Lesi mulut dimulai sebagai pembengkakan dan kemerahan pada mukosa mulut, diikuti oleh pembentukan lepuh yang memecah dan meninggalkan area ulserasi. Bibir bisa menjadi bengkak dan mengembangkan kerak darah. Lesi kulit yang khas adalah “target” atau “lesi iris” yang terdiri dari cincin konsentris kulit merah yang dikelilingi oleh area kulit berwarna normal (lihat Kanan). Tingkat keterlibatan bisa sangat parah sehingga memerlukan rawat inap.
  • Gingivitis sel plasma: Gingivitis sel plasma muncul sebagai kemerahan dan pembengkakan pada gusi tanpa ulserasi (kehilangan sel kulit). Penampilan yang khas ini disebabkan oleh pengumpulan sel darah putih tertentu, yang disebut sel plasma, di gusi. Area lain yang mungkin terlibat termasuk lidah atau bibir. Kondisi yang dapat dibalik ini berbeda dari penyakit gusi, dan gejalanya sembuh begitu penyebabnya dihilangkan.
  • Oral allergy syndrome (OAS) adalah jenis alergi makanan yang dikelompokkan berdasarkan sekelompok reaksi alergi di mulut dan tenggorokan sebagai respons terhadap makan buah, kacang, dan sayuran tertentu (biasanya segar) yang biasanya berkembang pada orang dewasa dengan demam. OAS bukan alergi makanan yang terpisah, melainkan merupakan reaktivitas silang antara sisa-sisa pohon atau serbuk sari gulma yang masih ditemukan di buah-buahan dan sayuran tertentu. Karena itu, OAS hanya terlihat pada orang dengan alergi serbuk sari musiman, dan sebagian besar orang yang alergi terhadap serbuk sari pohon.  Ini biasanya terbatas pada konsumsi buah atau sayuran mentah. Istilah lain yang digunakan untuk sindrom ini adalah alergi serbuk sari. Pada orang dewasa, hingga 60% dari semua reaksi alergi makanan disebabkan oleh reaksi silang antara makanan dan alergen inhalasi.

Tanda dan gejala Hipersensitif Mulut dan Gigi

Gigi dan mulut
  • Nyeri gigi atau gusi tanpa adanya infeksi pada gigi (biasanya berlangsung dalam 3 atau 7 hari).
  • Gusi sering berdarah.
  • Mulut berbau
  • bibir kering dan mudah berdarah. lidah putih atau kotor atau berpulau (geographic tongue)
  • Sering sariawan stomatitis
  • Diujung mulut, mulut dan bibir sering kering,
  • sindrom oral dermatitis.
  • Muncul benjolan di gusi seperti abses tetapi bukan infeksi (biasanya nyeri ringan dan cenderung tidak nyeri)
  • Lidah muncul bintik2 htam

Tanda dan Gejala Saluran erna pada penderita hipersensitif Mulut dan Gigi

ORGAN/SISTEM TUBUH GEJALA DAN TANDA
1 Sistem Pernapasan
  • Batuk, pilek, bersin, sesak (astma), napas pendek, wheezing,
  • banyak lendir di saluran napas atas (mucus bronchial atau hipersekresi bronkus)
  • Rattling  dan vibration dada.
2 Sistem Pembuluh  Darah dan jantung
  • Palpitasi (berdebar-debar), flushing (muka ke merahan),
  • nyeri dada,
  • colaps, pingsan, tekanan darah rendah,
  • denyut jantung meningkat, skipped beats, hot flashes, pallor;
  • tangan hangat, kedinginan, tingling,
  • redness or blueness of hands; faintness;
  • pseudo-heart attack pain ; nyeri dada depan,  tangan kiri, bahu, leher, rahang hingga menjalar di pergelangan tangan
3 Sistem Pencernaan
  • Nyeri perut, sering diare, kembung, muntah, sulit berak, sering buang angin (flatus), mulut berbau, kelaparan, haus, saliva (liur) meningkat,
  • Sariawan atau canker sores,
  • metallic taste in mouth, stinging tongue, nyeri gigi,
  • burping atau sendawa
  • retasting foods,
  • ulcer symptoms,
  • heartburn, indigestion, nausea, vomiting, gangguan mengunyah dan menelan, abdominal rumbling (perut berbunyi kerucuk2)
  • Nyeri dada sering dianggap pseudo-heart attack pain atau asma. Bila ringan gangguannya hanya sering menarik nafas dalam (sesak ringan), saat tidak tingan bisa nyeri dada atau sesak pada dada
  • konstipasi, Berak sulit, keras, berdarah, BAB tidak tiap hari, jangka panjang beresiko wasir atau ambein.
  • spastic colitis, “emotional colitis,” gall bladder colic, cramps, diarrhea, passing gas, timbul lendir atau darah dari rektum, anus gatal atau panas.

1517273824990-3.jpg

Berbagai gangguan tersebut di atas seringkali munculnya bersamaan dalam 3-5 hari membaik setelah itu muncul lagi dalam beberpa minggu atau bulan lagi. Penyebab paling sering ganggun tersebut adalah infeksi virus ringan atau flu atau common cold ringan yang tidak pernah disadari. Bahkan klinisi jarang menanyakan gangguan infeksi virus tersebut. karena gangguan tersebut sangat ringan.

Tanda dan Gejala Infeksi Virus

Infeksi yang dimaksud disini adalah bebagai serangan infeksi yang mengganggu tubuh  baik berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Infeksi ini berupa radang tenggorok (faringitis akut), Radang amandel (tosilitis akut), Infeksi saluran napas atau infeksi virus lainnya yang tidak khas. Gejala infeksi virus yang ringan inilah yang sering dialami oleh penderita dewasa. Gejala ringan, tidak khas dan cepat mmebaik ini sering dianggap gejala masuk angin, panas dalam atau kecapekan.

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami orang dewasa adalah :

  • Badan Teraba hangat telapak tangan, dahi atau badan. Kadang disertai badan merianga seperti kedinginan, Demam bisa muncul tapi agak jarang.
  • Myalgia. Badan, otot dan tulang (khususnya tulang punggung, kaki dan tangan) ngilu dan nyeri. Gangguan ini oleh penderita sering dianggap karena kecapekan, kurang tidur atau terlalu lama menggendong bayi.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri tenggorokan, tenggorokan kering
  • Batuk ringan, bersin  atau pilek. Kadang hanya terjadi dalam 1-2 hari kemudian membaik. keadaan ini sewring dianggap “mau flu tidak jadi”.
  • Mual atau muntah
  • Badan kedinginan, terasa hangat di muka dan kepala
  • Badan lesu

Infeksi dan Alergi

Infeksi dan alergi seringkali merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Pada penderita alergi yang tidak terkendali khususnya yang berkaitan dengan gangguan saluran cerna (alergi atau hipersensitifitas saluran cerna) beresiko sering mengalami infeksi khususnya infeksi saluran napas. Sebaliknya keadaan infeksi khususnya infeksi virus demam, batuk, pilek, muntaber dapat memicu gejala alergi semakin meningkat. Pada penderita alergi sering dianggap infeksi tetapi sebaliknya infeksi dianggap alergi. Banyak penderita sering pilek hilang timbul dalam jangka panjang. Seringkali penderita merasa semua gangguan pileknya selama ini karena alergi. Tetapi bila dicermati ternyata penderita alergi mudah terserang flu. Memang dalam jangka pilek tersebut penderita mengalami alergi. Tetapi, dísela alergi tersebut mereka mudah terkena flu.

Penderita Alergi Mudah Terkena Infeksi

Pada penderita alergi yang tidak terkendali khususnya yang berkaitan dengan gangguan saluran cerna (alergi atau hipersensitifitas saluran cerna) beresiko sering mengalami infeksi khususnya infeksi saluran napas. Hal ini terjadi karena mekanisme pertahanan tubuh sebagian besar terbentuk di saluran cerna. Bila gangguan cerna yang ringan terjadi terus menerus maka membuat penderita alergi mudah terkena infeksi virus. Infeksi virus tersebut ditandai dengan mudah radang tenggorok, badan linu, batuk, pilek dan kadang demam.

Bila infeksi sering dialami maka sering disebut Infeksi Berulang. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Pada infeksi berulang ini terjadi yang berbeda dengan anak yang normal dalam hal kekerapan penyakit, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.Kekerapan penyakit adalah frekuensi terjadinya penyakit dalam periode tertentu. Pada infeksi berulang terjadi bila terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut. Pada infeksi berulang biasanya didapatkan kerentanan dalam timbulnya gejala klinis suatu penyakit, khususnya demam. Bila terjadi demam sering sangat tinggi atau lebih 39oC. Dengan penyakit yang sama anak lain mungkin hanya mengalami demam sekitar 38- 38,5oC. Biasanya penderita lebih beresiko mengalami pnemoni, mastoiditis, sepsis, osteomielitis, ensefalitis dan meningitis.

Infeksi Memicu Timbulnya Alergi Saluran Cerna

Infeksi khususnya infeksi virus demam, batuk, pilek, muntaber dapat memicu gejala alergi semakin meningkat. Infeksi bakteri, virus atau lainnya sering memicu timbulnya gejala alergi. Hal ini misalnya dapat dilihat saat anak demam tinggi misalnya karena faringitis akut (infeksi tenggorokan) sering disertai timbul gejala alergi lainnya seperti asma (sesak), mata bengkak, biduran, kulit timbul bercak merah, diare, muntah atau nyeri perut padahal yang infeksi adalah tenggorokan. Pada anak yang mengalami nyeri perut saat demam biasanya dalam keadaan sehatpun pernah mengalami riwayat sakit perut berulang. Demikian juga timbal diare, muntah, kulit timbul ruam saat demam, biasanya penderita memang punya riawayat saluran pencernaan atau kulit yang sensitif (alergi).Keadaan ini membuat pengenalan tanda, gejala alergi dan mencari penyebab alergi menjadi lebih rumit. Seringkali keadaan infeksi sebagai pemicu alergi ini tidak terdeteksi atau diabaikan. Sehingga seringkali terjadi kesalahan diagnosis memvonis penyebab alergi adalah susu, debu atau makanan tertentu. Hal ini juga sebagai penyebab tersering terjadi overdiagnosis alergi susu sapi pada bayi Ketika minum susu sapi selama 3-6 bulan tidak mengalami tanda dan gejala alergi. Teteapi setelah itu terdapat gangguan berak darah, gangguan kulit, batuk datau pilek dianggap karena alergi susu sapi.

1557032467733-8.jpg

wp-1495431708588.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s