Sinkop (Pingsan), Tekanan Darah Rendah dan Alergi Makanan

wp-1559363439264..jpgPingsan adalah hilangnya kesadaran sementara yang terjadi secara tiba-tiba dan sering menyebabkan orang terjatuh. Pingsan atau sinkop ternyata sering terjadi pada penderita alergi khususnya dengan gangguan hipersensitif saluran cerna, hidung (rinitis) atau asma. Alergi makanan dapat menyebabkan reaksi histamin yang dapat menyebabkan anafilaksis, dan ini pada gilirannya dapat menyebabkan syok, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba. Tetapi seseorang tidak harus memiliki reaksi alergi yang parah untuk mengalami gejala tekanan darah rendah. Lebih ringan daripada alergi, sensitivitas makanan juga dapat menghasilkan gejala pada tingkat yang lebih kecil.

Kesadaran penderita akan kembali dalam waktu singkat, yaitu umumnya dalam beberapa detik. Jika ada orang yang tidak kunjung sadar setelah 1 hingga 2 menit, segera hubungi rumah sakit. Setelah tersadar, biasanya orang yang baru saja pingsan akan merasa kebingungan disertai lemas selama kurang lebih 30 menit.

Pingsan bisa terjadi saat tekanan darah mendadak turun. Turunnya tekanan darah mengakibatkan aliran darah ke otak berkurang sehingga otak kekurangan oksigen. Penurunan aliran darah ini biasanya akan diseimbangkan oleh tubuh secara otomatis. Tetapi jika proses penyesuaian tersebut memakan waktu terlalu lama, seseorang dapat mengalami pingsan.

Penyebab

Penyebab di balik penurunan aliran darah ke otak bisa beragam. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Malfungsi yang bersifat sementara pada sistem saraf otonom, yaitu sistem saraf yang berfungsi otomatis, misalnya untuk mengatur detak jantung dan tekanan darah. Malfungsi pada sistem saraf ini merupakan penyebab di balik sebagian besar kasus pingsan. Gangguan fungsi tersebut dapat dipicu rasa sakit yang terjadi tiba-tiba, berdiri terlalu lama, tertawa, atau bahkan bersin.
  • Tekanan darah yang mendadak turun
  • Pada penderita alergi makanan khususnya dengan gejala gastrointestinal, hidung (rinitis) atau asma seringkal bisa berdampak pada tekanan darah menurun dan pinsan. Alergi makanan dapat menyebabkan reaksi histamin yang dapat menyebabkan anafilaksis, dan ini pada gilirannya dapat menyebabkan syok, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba. Tetapi seseorang tidak harus memiliki reaksi alergi yang parah untuk mengalami gejala tekanan darah rendah. Lebih ringan daripada alergi, sensitivitas makanan juga dapat menghasilkan gejala pada tingkat yang lebih kecil.

wp-11..jpg

  • Pingsan dapat terjadi saat seseorang duduk, berdiri, atau karena terlalu cepat bangkit berdiri. Orang yang mengalami kondisi ini cenderung tidak merasakan gejala apa pun sebelum kehilangan kesadaran.
  • Gejala awal, biasanya berupa: Berkeringat dingin, menguap, mual, linglung, tubuh yang limbung, pandangan kabur atau telinga berdenging.

Gejala Alergi yang Menyertai

Gejala pingsan dan hipotensi atu tekanan darah rendah berkaitan dengan alergi makanan bila gangguan itu disertai beberapa gejala alergi makanan berikut ini :

Sistem Pembuluh  Darah dan jantung
  • Palpitasi (berdebar-debar), flushing (muka ke merahan), nyeri dada, colaps, pingsan, tekanan darah rendah,
  • denyut jantung meningkat, skipped beats, hot flashes, pallor; tangan hangat, kedinginan, tingling, redness or blueness of hands; faintness;
  • pseudo-heart attack pain ; nyeri dada depan,  tangan kiri, bahu, leher, rahang hingga menjalar di pergelangan tangan
Sistem Pencernaan
  • Nyeri perut, sering diare, kembung, muntah, sulit berak, sering buang angin (flatus), mulut berbau, kelaparan, haus, saliva meningkat,
  • Nyeri dada seperti sesak, sering menarik nafas dalam, nyeri dada sering dianggap masuk angin
  • Sariawan atau canker sores, metallic taste in mouth, stinging tongue, nyeri gigi, burping, retasting foods, ulcer symptoms, heartburn, indigestion, mual, muntah, gangguan mengunyah dan menelan, abdominal rumbling,
  • konstipasi, sulit BAB, tidak tiap hari, BAB kadang berdarah, muncu tonjoloan doi sekitar anus, pada dewasa muncul seperti gejala wasir
  • nyeri perut, nyeri gall bladder, cramps, diarrhea, passing gas,
  • Anus timbul lendir atau darah dari rektum, anus gatal atau panas.
Telinga Hidung Tenggorokan
  • Hidung : Hidung buntu, bersin, hidung gatal, pilek, post nasal drip, epitaksis (hidung berdarah, mimisan), tidur mendengkur, mendengus
  • Tenggorok :  tenggorokan nyeri/kering/gatal,  palatum gatal, suara parau/serak, batuk pendek (berdehem),
  • Telinga : telinga terasa penuh/ bergemuruh / berdenging, telinga bagian dalam gatal, nyeri telinga dengan gendang telinga kemerahan atau normal, gangguan pendengaran hilang timbul,  terdengar suara lebih keras, akumulasi cairan di telinga tengah, pusing, gangguan keseimbangan.  Pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala belakang bawah

1557032467733-8.jpgPenanganan

  • Penanganan utama saat seseorang pingsan adalah dengan meningkatkan aliran darah ke otak agar kebutuhan oksigen tercukupi. Proses ini dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut: Memeriksa apakah ada hambatan pada pernapasan. Membaringkan orang yang pingsan dengan posisi kaki lebih tinggi dari jantung. Jika situasi ini tidak memungkinkan, dudukkan penderita dan letakkan kepalanya di antara lutut dalam posisi membungkuk. Longgarkan pakaian atau aksesori yang terlalu ketat, misalnya ikat pinggang. Jika tidak kunjung sadar selama lebih dari 2 menit, segera hubungi rumah sakit agar penanganan darurat dapat dilakukan. Selama menunggu, baringkan penderita pada posisi miring, posisikan kepalanya menengadah agar saluran pernapasannya lancar, dan pantau pernapasan serta denyut nadinya.
  • Bila pingsan berulang disertai gangguan alergi saluran cerna, hidung dan asma maka penghindaran makanan pemicu alergi dapat mengurangi resiko berulangnya gangguan tersebut

Referensi

  • Blue JA. Syncope in allergy. Ann Allergy. 1968 Oct;26(10):561-8.
  • Gupta VK. Headache. 2005 Nov-Dec;45(10):1413-6. Recurrent syncope, hypotension, asthma, and migraine with aura: role of metoclopramide.
  • Carolina Perales Chordá, Sandra Fabregat Nebot Pedro Moral Moral, Isidro Jarque Ramos, Dolores Hernández Fernandez de Rojas.. Syncope as a manifestation of mast cell activation disorder. Annalsof Allergy, Asthma & Immunology. February 2015Volume 114, Issue 2, Pages 153–154

wp-1559363691580..jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s