Pembesaran Kelenjar Dileher, Sering Terjadi Pada Penderita Alergi ?

Orangtua Rafael anak usia 8 tahun sangat cemas dan kawatir ketika anaknya  mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher sudah berlangsung lama, Berbagai dokter sudah dikunjungi , tetapi tetap saja penjelasan banyak dokter tetap membuat orangtua kawatir. Bahkan karena cemas dokter telah memeriksa Rafael dengan  berbagai pemeriksan yang membutuhkan biaya yang cukup banyak dengan pemeriksaan USG, Biopsi, pemeriksaan darah mulai dari infeksi TB, dan panel penyakit autoimun. Tetapi semuanya normal, dan dokterpun menganggap kelenjar itu normal. Ketika masih tak puas sempat berkonsultasi pada dokter lain lagi. Saat  kedokter lain tersebut dikatakan bahwa Rafael muncul kelenjar karena manifestasi alergi yang timbul padanya tak terkendali. Benarkah gangguan alergi bisa membuat munculnya kelenjar.

Munculnya benjolan sebesar kacang di daerah sekitar leher atau di tempat lain di sekitar tubuh, bisa menjadi pertanda bahwa tubuh mengalami infeksi atau terkena penyakit lain. Pada banyak kasus penyebab tersering adalah penderita infeksi berulang yang tidak disadari sehingga membuat kelenjar mudah membesar. Penyebab lain seperti infeksi TB, Gangguan Autoimun, keganasan sangat jarang terjadi. Pembesaran kelenjar sering terjadi pada anak dengan riwayat alergi Kondisi ini disebut dengan pembengkakan kelenjar getah bening, atau juga dikenal dengan nama adenopati.

Penderita alergi dikaitkan dengan pembesaran kelenjar karena berbagai gejala yang kompleks. Pada penderita alergi dengan hipersenisitif saluran cerna biasanya akan mengalami kekebalan tubuh yang menurun. Karena, sistem kekebalan tubuh sebagian besar dibentuk di saluran cerna. Sehingga anak akan mudah terken aflu, batuk, pilek, badan hangat dan kadang demam. Saat infeksi virus infeksi saluran napas berulang maka kelenjar akan membesar.

Kelenjar getah bening adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang membantu tubuh menyingkirkan virus atau bakteri, sekaligus menyediakan sel darah putih untuk melawan virus atau bakteri tersebut. Pembengkakan biasanya terjadi jika ada infeksi berulang atau anak udah sakit batuk pilek berkepanjangan. Bila hanya batuk sekali sekali dan jarang kelenjar tak akan membesar.

Pembengkakan kelenjar getah bening bisa terjadi di selakangan, leher, ketiak, di bawah rahang, dan di belakang telinga. Bila pembengkakan terjadi, akan muncul benjolan sebesar kacang di bawah kulit dan berwarna merah, nyeri, serta hangat saat ditekan atau disentuh. Selain itu, gejala lain yang mungkin terjadi adalah pilek, sakit tenggorokan, sakit telinga, demam, dan kelelahan.

Pada penderita alergi biasanya tidak hanya satu sistem orahan tubuh tetapi menganggu beberapa organ tubuh secara bersamaan seperti saluran napas, saluran cerna atau kulit. pada kasus Rafael ternyata mengalami hipersensitif saluran napas hidung dan paru, saluran cerna dan kulit. Pada penderita alergi dengan gangguan saluran cerna seperti mudah mual, muntah, GERD, nyeri perut, sulit BAB (konstipasi), mudah diare, sariawan, bibir kering, bibir berdarah, ujung mulut luka, mulut berbau tajam (halitosis).  Dalam kondisi pencernaan sensitif tersebut sehingga membuat kekebalan tubuh anak menurun karena kekebalan tubuh sebagian besar dibentuk di saluran cerna. Dalam keadaan tersebut membuat anak mudah sakit dan sering muncul pembesaran kelenjar.

Saat beberapa makanan penyebab alergi dihindari, ternyata gangguan saluar cerna Rafael membaik sehingga keluhan sering sakit, sulit makan dan pembesaran kelenjar ikut membaik.1517273824990-3.jpg

Penyebab Sangat Jarang

  • Penyakit Tuberkolosis. Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang juga bisa menyebabkan pembesaran kelenjar. Salah satu tanda khas dari TB kelenjar ini adalah munculnya benjolan pada bagian leher atau kepala. Biasanya benjolan ini akan terus membesar seiring waktu dan tidak nyeri. Selain itu, skrofula biasanya disertai dengan gejala-gejala lain, seperti penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, tubuh terasa tidak nyaman, demam, dan berkeringat di malam hari.
  • Penyakit autoimun. Pembengkakan kelenjar getah bening juga bisa terjadi akibat penyakit autoimun akibat sistem kekebalan tubuh malah keliru menyerang jaringan yang sehat, seperti: Rheumatoid arthritis, Lupus atau Sarcodiosis
  • Kanker. Terkadang kanker juga bisa menjadi penyebab pembengkakan kelenjar getah bening. Contohnya, limfoma dan beberapa jenis leukemia. Saat kanker bermetastatik alias menyebar, terkadang terjadi juga pembengkakan kelenjar. Misalnya, ketika kanker payudara menyebar ke kelenjar getah bening, akan muncul adenopati di ketiak (axilla), atau ketika kanker paru-paru menyebar ke kelenjar getah bening, akan ada adenopati di sekitar tulang selangka.
  • Penyebab lain. Hal lain yang juga bisa menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening adalah cedera, atau penggunaan obat-obatan tertentu seperti dilantin (obat pencegahan malaria).

1557032304580-8.jpg

Diagnosis

  • Diagnosis orang yang mengelamai daya tahan menurun yang disebabkan karena alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan  eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan.
  • Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis  dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Allergy Clinic  Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif.
  • Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Gangguan defisiensi sistem kekebalan juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi.  Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis, defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya.
  • Saat melakukan eliminasi provokasi makanan berbagai gangguan membaik maka pemeriksaan berbagai macam untuk mencari penyakit TB, Autoimun dan Keganasan tak perlu dilakukan.

Komplikasi

  • Penderita infeksi berulang sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis (amandel), otitis media (infeksi telinga), gagal tumbuh, overtreatment antibiotika, overtreatment tonsilektomi, overdiagnosis tuberkulosis.
  • Gangguan perilaku sering menyertai penderita gangguan ini diantaranya adalah gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi dan gangguan belajar. Problem sosial yang dihadapi adalah terjadi peningkatan biaya berobat yang sangat besar dan  mengganggu absensi sekolah. Gangguan ini lebih sering terjadi pada usia anak, sehingga sangat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak.

Akibat sering sakit seringkali menimbulkan berbagai komplikasi di antaranya adalah

  • Sering dirawat di rumah Sakit. karena saat sakit berulang berkepanjangan hilang timbul sakit yang ke sekian lebih berat menjadi demam tinggi, mntah berlebihan dan tidak mau makan sama sekali
  • Menderita nyeri telinga saat batuk atau pilek, infeksi telinga, atau Otitis media Akut (bahasa awam penyakit congek telinga)
  • Mengalami pembesaran amandel atau tonsilitis akut atau kronis. Penderita yang mengalami amandel membesar pasti sebelumnya sering mengalami batuk dan pilek berulang
  • Dapat terjadi sinusitis
  • Mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala bagian belakang
  • Mangalami gangguan kenaikkan berat badan anak tampak kurus dan berat badan sulit naik
  • Mengalami infeksi berat seperti pnemonis, infeksi otak, meningitis dan sebagainya
  • Sering mengalami overdiagnosis TBC padahal tidak mengalami infeksi tersebut
  • Sering mendapatkan overtreatment atau pemberian antibiotika yang berlebihan, padahala sebagian besar infeksi yang terjadi adalah infeksi virus yang seharusnya tanpa pemberian antibiotika sembuh sendiri
  • Sering mengalami overtreatment penyakit Tifus. karena bila terjadi infeksi virus saat diperiksa tes widal nailainya tinggi padahal belum tentu terkena tifus.
  • Bila sakit berulang akan terjadi gambaran lekosit tinggi dalam darah biasanya di atas lekosit hasilnya lebih dari 15.ooo

1517273879467-3.jpg

  • Pencegahan terbaik pada penderita seperti ini bukan sekedar pemberian ASI, makan bergizi, isatirahat cukup, berolahraga, pemberian vitamin dan imunisasi influenza. Banyak kasus semua trik kesehatan tersebut dilakukan tetapi tetap saja keluhan tersebut hilang timbul. Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang kita harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Bila pada anak kita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi.
  • Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran makanan tertentu harus dilakukan.

  • Pemberian ASI ekslusif harus memperhatikan pola makan ibu saat pemberian ASI. Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan  penitipan anak saat ibu bekerja.
  • Pemberian imunisasi terutama influenza dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat  mungkin akan memperparah  masalah yang sudah ada. Pemberian imunisasi dan imunomudulator seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki. Karena, banyak kasus meskipun sudah melakukan imunsasi influenza dan minum vitamin rutin tetapi tetap saja sering sakit. Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus.
  • Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter  yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri  Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer, dan kasus ini sangat jarang terjadi.

wp-1559363691580..jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s