Mengapa Anakku Sering Sakit, Ternyata Faktor Alergi Berperanan ?

Orang tua Si Al balita berusia 3 tahun  sangat kawatir, sejak usia 6 bulan hingga kini hampir tiap bulan selalu ke dokter karena sakit. Keluhan yang sering dialami adalah batuk, pilek dan panas. Kekawatiran orangtua beralasan karena anak tersebut sudah terlalu sering minum obat apalagi antibiotika adalah konsumsi rutin setiap sakit. Penderita ini sering mengalami overdiagnosis TBC atau divonis sebagai TBC atau “Flek” padahal tidak menderita penyakit tersebut.  Tanpa disadari ternyata salah satu orangtuanya atau kakaknya berpotensi sebagai sumber penularan yang juga sering mengalami gejala sering sakit, batuk dan pilek.  Kontak sekolah sering dianggap sebagai biang keladinya. Padahal penyebab utamanya adalah karena daya tahan tubuh menurun. Ternyata penyebab daya tahan tubuh yang tidak optimal ini sering terjadi pada orang dengan saluran cerna yang sensitif. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar atau sekitar 70% mekanisme pertahanan tubuh terdapat dalam saluran cerna. Biasanya hal ini sering terjadi pada penderita alergi, asma dan sensitif pencernaan. 

Infeksi berulang pada anak adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang  khususnya infeksi saluran napas akut. Seringhkali keadaan ini dianggap sebagai penyakit batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh. Padahal sebenarnya gangguan batuk pilek tersebut hilang karena infeksi berulang mudah terkena sakit atau istilah awamnya “on and off”. Manifestasinya timbul kadang keras berkurang sedikit kemudian meningkat lagi berulang dalam jangka panjang. Sebenarnya infeksi batuk pilek tersebut penyebabnya utamanya virus yang biasanya akan membaik dalam 5-7 hari.  Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang  terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif  jarang terjadi. Seseorang mengalami infeksi berulang bila infeksi sering dialami secara berulang kali dalam waktu tertentu. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang  terhadap terhadap terkenanya infeksi. Pada infeksi berulang ini terjadi yang berbeda dengan anak yang normal dalam hal kekerapan penyakit, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Kekerapan penyakit adalah frekuensi terjadinya penyakit dalam periode tertentu. Pada infeksi berulang terjadi bila terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut. Penelitian yang telah dilakukan Cleveland Clinic Amerika Serikat, bahwa pada anak normal usia < 1 tahun rata-rata mengalami infeksi 6 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 7-8 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 5-7 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun mengalami 4-5 kali pertahun. Pada infeksi berulang biasanya didapatkan kerentanan dalam timbulnya gejala klinis suatu penyakit, khususnya demam. Bila terjadi demam sering sangat tinggi atau lebih  39oC. Dengan penyakit yang sama anak lain mungkin hanya mengalami demam sekitar 38- 38,5oC. Biasanya penderita lebih beresiko mengalami pnemoni, mastoiditis, spesis, ensefalitis dan meningitis.

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH

  • Sistem kekebalan tubuh manusia diantaranya adalah kekebalan tubuh tidak spesifik. Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat  dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan yang tidak spesifik berupa pertahanan fisik, kimiawi, mekanik dan fagositosis.  Pertahanan fisik berupa kulit dan  selaput lender sedangkan  kimiawi berupa ensim dan keasaman lambung.  Pertahan mekanik adalah gerakan usus, rambut getar dan  selaput lender. Pertahanan  fagositosis adalah penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih dan zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat asing. Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit). Salah satu contoh kekebalan alami adalah mekanisme pemusnahan bakteri atau mikroorganisme lain yang mungkin terbawa masuk saat kita makan. HCl yang ada pada lambung akan mengganggu kerja enzim-enzim penting dalam mikroorganisme. Lisozim merupakan enzim yang sanggup mencerna dinding sel bakteri sehingga bakteri akan kehilangan kemampuannya menimbulkan penyakit dalam tubuh kita. Hilangnya dinding sel ini menyebabkan sel bekteri akan mati. Selain itu juga terdapat senyawa kimia yang dinamakan interferon yang dihasilkan oleh sel sebagai respon adanya serangan virus yang masuk tubuh. Interferon bekerja menghancurkan virus dengan menghambat perbanyakan virus dalam sel tubuh.

1517273824990-3.jpgFAKTOR PENYEBAB

  • Terdapat empat penyebab utama dari infeksi berulang, diantaranya adalah paparan dengan lingkungan, struktur dan anatomi organ tubuh, masalah sistem kekebalan tubuh (mekanisme system imun yang berlebihan (penderita alergi) atau kekurangan)   atau penyakit infeksi yang tidak pernah diobati dengan tuntas. Faktor genetik diduga ikut berperanan dalam gangguan ini. Pada genetik tertentu didapatkan perbedaan pada kerentanan terhadap infeksi. Anak laki-laki lebih sering mengalami gangguan ini. Faktor lingkungan seperti kontak dengan sumber infeksi sangat berpengaruh. Kelompok anak yang mengikuti sekolah prasekolah lebih sering mengalami infeksi 1,5-3 kali dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah. Perokok pasif kemungkinan dua kali lipat untuk terkena infeksi. Jumlah anggota keluarga dirumah meningkatkan terjadinya infeksi. Keluarga dengan jumlah 3 orang hanya didapatkan 4 kali infeksi pertahun sedangkan jumlah keluarga lebih dari 8 didapatkan lebih 8 kali infeksi pertahun. Pada bayi dan anak pra sekolah infeksi berulang biasanya disebabkan karena kontak dengan seseorang yang sering sakit di dalam rumah. Infeksi berulang pada orang dewasa selama ini dianggap karena terlalu lelah, masuk angin, asma, alergi atau sinusitis. Memang biasanya penderita alergi mudah terkena infeksi batuk dan pilek. Tetapi seringkali gejala infeksi ini dianggap sebagai gejala alergi. Gejala umum yang sering dialami adalah badan sering pegal dan capek, nyeri tenggorok, badan meriang dan sakit kepala. Bila gangguannya ringan pada orang dewasa gangguan ini terjadi hanya dalam 2-3 hari saja, tetapi sering berulang timbul. Sehingga istilah yang sering diberikan adalah “mau flu tidak jadi”. Pada anak usia sekolah seringkali orangtua menyalahkan karena teman di sekolah sering sakit. Sebenarnya bila dicermati di lingkungan sekolah memang tidak akan pernah bebas anak sakit. Dalam lingkungan kelas memang mungkin terdapat 30% anak yang mudah sakit karena daya tahan tubuhnya buruk, Tetapi sebagian besar lainnya relatif jarang sakit karena daya tahan tubuhnya baik. Sehingga yang harus diperhatikan adalah daya tahan tubuh anak bukan di salahkan sekolahnya.

SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI

  • Infeksi berulang sering dialami penderita gangguan mekanisme sistem kekebalan tubuh berupa ”overactive” system kekebalan (alergi) dan “underactive” sistem kekebalan (defisiensi imun). Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri. Penderita alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali. Berdasarkan mekanisme pertahan tubuh yang dijelaskan sebelumnya tampaknya gangguan saluran cerna dan asma sering mengganggu mekanisme pertahanan tubuh. Alergi makanan tampaknya ikut berperanan penting dalam dalam gangguan ini.

Tampilan klinis penderita alergi dengan gangguan saluran cerna adalah sering muntah, sariawan, mudah diare, buang air besar sulit, berbau dan berwarna gelap, nyeri perut berulang, mulut berbau, lidah sering putih, berpulau-pulau atau kotor. Gangguan saluran cerna pada orang dewasa selama ini disebut sebagai penyakit mag, masuk angin atau panas dalam. Pada anak tertentu gangguan saluran cerna ini kadang diikuti gagal tumbuh atau gangguan kenaikkan berat badan. Gejala lain yang menyertai adalah sering batuk, pilek, asma, gangguan kulit, mimisan dan gangguan alergi lainnya. Bila gangguan cerna terjadi ternyata dapat meningkatkan perilaku anak seperti  anak sangat aktif, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, agresif, gangguan tidur malam, ”ngompol” malam hari atu sering kencing. Gangguan motorik dan koordinasi yang dialami adalah terlambat bolak-balik, duduk dan merangkak, sering terjatuh, terlambat berjalan dan keterlambatan motorik lainnya. Sedangkan keterlambatan motorik mulut  adalah gangguan mengunyah dan menelan, atau keterlambatan dan gangguan bicara. Pemberian ASI ekslusif seharusnya tidak mengalami infeksi pada bayi usia di bawah 6 bulan. Tetapi ternyata masih saja terdapat bayi dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang. Penulis telah mengadakan penelitian terhadap 32 anak dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang saat usia di bawah 6 bulan di Children Allergy Center,, Rumah Sakit Bunda Jakarta. Ternyata sebagian besar penderita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna diantaranya, sering muntah, buang air besar yang sering > 4 kali perhari dan konstipasi atau sulit buang air besar.

1557032304580-8.jpgDiagnosis

  • Diagnosis orang yang mengelamai daya tahan menurun yang disebabkan karena alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan  eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan.
  • Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis  dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Allergy Clinic  Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif.
  • Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Gangguan defisiensi sistem kekebalan juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi.  Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis, defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya.

Komplikasi

  • Penderita infeksi berulang sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis (amandel), otitis media (infeksi telinga), gagal tumbuh, overtreatment antibiotika, overtreatment tonsilektomi, overdiagnosis tuberkulosis.
  • Gangguan perilaku sering menyertai penderita gangguan ini diantaranya adalah gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi dan gangguan belajar. Problem sosial yang dihadapi adalah terjadi peningkatan biaya berobat yang sangat besar dan  mengganggu absensi sekolah. Gangguan ini lebih sering terjadi pada usia anak, sehingga sangat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak.

Akibat sering sakit seringkali menimbulkan berbagai komplikasi di antaranya adalah

  • Sering dirawat di rumah Sakit. karena saat sakit berulang berkepanjangan hilang timbul sakit yang ke sekian lebih berat menjadi demam tinggi, mntah berlebihan dan tidak mau makan sama sekali
  • Menderita nyeri telinga saat batuk atau pilek, infeksi telinga, atau Otitis media Akut (bahasa awam penyakit congek telinga)
  • Mengalami pembesaran amandel atau tonsilitis akut atau kronis. Penderita yang mengalami amandel membesar pasti sebelumnya sering mengalami batuk dan pilek berulang
  • Dapat terjadi sinusitis
  • Mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala bagian belakang
  • Mangalami gangguan kenaikkan berat badan anak tampak kurus dan berat badan sulit naik
  • Mengalami infeksi berat seperti pnemonis, infeksi otak, meningitis dan sebagainya
  • Sering mengalami overdiagnosis TBC padahal tidak mengalami infeksi tersebut
  • Sering mendapatkan overtreatment atau pemberian antibiotika yang berlebihan, padahala sebagian besar infeksi yang terjadi adalah infeksi virus yang seharusnya tanpa pemberian antibiotika sembuh sendiri
  • Sering mengalami overtreatment penyakit Tifus. karena bila terjadi infeksi virus saat diperiksa tes widal nailainya tinggi padahal belum tentu terkena tifus.
  • Bila sakit berulang akan terjadi gambaran lekosit tinggi dalam darah biasanya di atas lekosit hasilnya lebih dari 15.ooo

1517273879467-3.jpgPENCEGAHAN

  • Pencegahan terbaik pada penderita seperti ini bukan sekedar pemberian ASI, makan bergizi, isatirahat cukup, berolahraga, pemberian vitamin dan imunisasi influenza. Banyak kasus semua trik kesehatan tersebut dilakukan tetapi tetap saja keluhan tersebut hilang timbul. Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang kita harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Bila pada anak kita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi.
  • Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran makanan tertentu harus dilakukan. Pemberian ASI ekslusif harus memperhatikan pola makan ibu saat pemberian ASI. Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan  penitipan anak saat ibu bekerja.
  • Pemberian imunisasi terutama influenza dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat  mungkin akan memperparah  masalah yang sudah ada. Pemberian imunisasi dan imunomudulator seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki. Karena, banyak kasus meskipun sudah melakukan imunsasi influenza dan minum vitamin rutin tetapi tetap saja sering sakit. Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus.
  • Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter  yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri  Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer, dan kasus ini sangat jarang terjadi.

wp-1559363691580..jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s