Penanganan Alopecia atau Kebotakan dan Rambut Rontok Pada Penderita Alergi

wp-1516370059739..jpgWidodo Judarwanto, pediatrician

Aurel, perempuan berusia 6 tahun, mengalami gangguan kebotakan yang sudah berlangsung 3 bulan. Bwberapa dokter ahli anak dan dokter spesialis kulit dikunjungi tetapi gangguan tersebut tidak membaik. Padahal sudah berbagai obat mahal dan canggih sudah diberikan para dokter ahli tersebut. Saat dikonsultasikan pada klinik penulis didapatkan riwayat gejala alergi pada anak tersebut yang sudah berlangsung lama. Setelah dilakukan eliminasi provokasi alergi makanan gangguan kebotakan dan rambut rontok membaik disertai perbaikan pada berbagai gejala alergi apada anak tersebut.

Alopecia areata (AA) dikaitkan dengan atopi pada 10-22% pasien, dua kali lipat prevalensi pada populasi umum. Pasien dapat mengalami dermatitis atopik bersamaan, demam, asma, dan bahkan alergi terhadap tungau debu. Dalam banyak kasus, keparahan dan flare diatesis atopik ini berkorelasi dengan keparahan AA. Di sini kami menyajikan pasien dengan AA yang dipengaruhi oleh esofagitis eosinofilik kontemporer (EoE). EoE adalah gangguan alergi yang baru-baru ini diakui, yang dimediasi oleh eosiniphils dan histamin.

Rambut rontok, juga dikenal sebagai kebotakan, mengacu pada hilangnya rambut dari kepala atau badan. Rambut rontok memiliki banyak penyebab termasuk alopecia androgenetic, alergi hotmonal, infeksi jamur, trauma (misalnya, karena trikotilomania), radioterapi, kemoterapi, kekurangan gizi (misalnya, kekurangan zat besi) dan penyakit Autoimunitas seperti alopecia areata.  Kebotakan adalah kurangnya sebagian atau seluruhnya dari pertumbuhan rambut. Tingkat dan pola kebotakan bervariasi, namun penyebab paling umum adalah androgenic alopecia, alopecia androgenetica, atau alopecia seborrheica.

Alopecia Areata (AA) adalah kondisi rambut rontok kronis, kambuh dan sembuh, yang tidak mempengaruhi jaringan parut yang mempengaruhi 0,1-0,2% orang di seluruh dunia, dengan risiko seumur hidup 2% (Gilhar et al., 2012). AA dapat mempengaruhi harga diri dan kualitas hidup pasien, membuat diagnosis dan pengendalian kondisi ini sangat penting (Paus dan Arck, 2009). Pasien dengan AA memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit autoimun lainnya, dan 10-22% pasien dengan AA memiliki atopi yang bersamaan, dua kali prevalensi pada populasi umum (Hordinsky dan Ericson, 2004). Diatesis atopik yang umumnya dikaitkan dengan AA adalah dermatitis atopik, asma, dan rinitis alergi (Huang et al., 2013). Flare dalam kondisi ini secara refleks dapat menyebabkan eksaserbasi AA. Di sini kami menyajikan pasien yang menderita EoE, gangguan pencernaan alergi, dan keparahan AA-nya berkorelasi dengan aktivitas penyakit EoE.

Tanda dan gejala

Gejala rambut rontok biasanya dalam pola melingkar, adanya ketombe, lesi kulit, dan bekas luka. Alopecia areata (ringan – tingkat menengah) biasanya menunjukkan di daerah rambut rontok yang tidak biasa misalnya alis, belakang kepala atau di atas telinga di mana biasanya kebotakan pola pria tidak mempengaruhi.

Manusia memiliki jumlah helai rambut antara 100.000 dan 150.000 di kepala mereka. Jumlah helai yang hilang dalam sehari biasanya bervariasi, tetapi rata-rata adalah 100. Untuk mempertahankan jumlah normal, rambut harus diganti pada jumlah yang sama di mana ia hilang. Tanda-tanda pertama dari rambut menipis terlihat adanya rambut lebih dari biasanya pada sisir setelah menyisir.

Gangguan keseimbangan hormon dipengaruhi beberapa faktor kimiawi yang sama, dan perubahan dalam masing-masing komponen dapat mempengaruhi seluruh sistem. Itu berarti bahwa segala sesuatu yang mempengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh dapat berdampak pada sistem kekebalan tubuh serta apa saja-dan yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh juga dapat mempengaruhi alergi. Perubahan kadar tingkat hormon dan regulasi dapat memiliki dampak yang signifikan pada kedua insiden alergi dan tingkat keparahan gejala alergi. Meskipun mekanisme tidak selalu dipahami dengan baik, perubahan kadar hormon ini sering berhubungan dengan terjadinya alergi atau perubahan gejala alergi, terutama untuk hay fever, asma, dan dermatitis. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kadar hormon, termasuk pola makan, beberapa jenis obat, dan stres. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa faktor-faktor ini juga bisa memicu atau memperburuk alergi.  Penelitian juga menunjukkan alergi sering dipicu atau diintensifkan oleh transisi tubuh alami dan siklus seperti pubertas, kehamilan dan menopause.

Tanda dan gejala gangguan hormonal yang sering terjadi pada penderita alergi
Pada bayi dan Anak :

  • keputihan/keluar darah dari vagina
  • Timbul bintil jerawat ada sedikit warna putih seperti nanah di ujungnya
  • pembesaran payudara
  • rambut rontok
  • Pada anak dan remaja bau badan berbeda, keputihan, jerawat
  • Pada anak usia SD dan remaja nafsu makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan

Beberapa Hormon yang berkaitan dengan alergi

  • Peningkatan hormon adrenalin bisa menimbulkan kecemasan, panik, perasaan labil.
  • Penurunan hormon kortisol menurun bisa mengakibatkan kelelahan atau lemas.
    Peningkatan hormon progesteron dapat mengakibatkan gangguan kulit kulit kering di bawah leher tapi di atas leher berminyak dan rambut rontok. Pada anak yang lebih besar yang sudah mengalami menstruasi, peningkatan hormon progesteron dapat menyebabkan gangguan sindrom premenstrual. Gejala sindrom premenstrual meliputi sakit kepala, migrain, nyeri perut, mual, muntah, menstruasi tidak teratur, menstruasi darah berlebihan.
  • Penurunan hormon estrogen, hormon metabolik dan hormon kortisol

Manifestasi Alergi

  • Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)
    (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)
  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI dan ANAK :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis gangguan hormonal tersebut dipengaruhi karena alergi atau hipersenitifitas makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
    Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
    Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
    Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan gangguan hormonal tersebut dipengaruhi karena alergi atau hipersenitifitas makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis seperti anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesase prostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dlamkeadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.
  • Obat. Pengobatan Gangguan Hormonal dan keterkaitan dengan Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
    Konsumsi obat-obatan beberapa cara dan strategi untuk menangani Gangguan Hormonal dan keterkaitan dengan Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan tidak akan berhasil selama penyebab utama alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.
    Sejak hormon memainkan peran penting dalam mengatur kejadian dan tingkat keparahan alergi, sangat mungkin hormon juga berperan dalam pengobatan alergi. hormon sintetis yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis alergi.
    Kortikosteroid adalah kelompok hormon yang dihasilkan oleh lapisan luar kelenjar adrenal. Kelompok ini mencakup kortisol, dan semua anggotanya memiliki efek anti-inflamasi luas. Inhaled synthetic corticosteroids are the primary maintenance medication used for asthma prevention. sintetik kortikosteroid inhalasi adalah obat perawatan utama yang digunakan untuk pencegahan asma. Kortikosteroid bisa disuntikkan untuk pengobatan peradangan sistemik yang berhubungan dengan alergi atau asma, atau dioleskan untuk mengobati peradangan lokal.
    Adrenalin, juga dikenal sebagai epinefrin, adalah hormon alami yang dilepaskan oleh kelenjar adrenal sebagai respons terhadap stres. Hal ini memicu peningkatan denyut jantung dan aliran darah meningkat menjadi otot dan otak, kegiatan yang kontra beberapa gejala anafilaksis, juga dikenal sebagai shock alergi. Adrenalin sintetis , atau epinefrin, digunakan untuk mengobati anafilaksis, karena alasan ini, orang-orang dengan alergi parah sering akan membawa epinefrin yang dikelola sendiri (seperti EpiPen) dalam kasus eksposur terhadap allergen mengancam nyawa.
    Alternatif pendekatan untuk alergi cenderung menekankan teknik pengurangan stres, terapi nutrisi secara alami mengembalikan tingkat sehat kortisol (hormon stres) dan hormon lainnya, dan sesuai, solusi alami untuk membawa hormon kembali seimbang. Pendekatan ini, integratif alami dapat mengurangi keparahan dari reaksi alergi atau bahkan menghilangkannya sama sekali.
    Mengingat kompleksitas sistem kekebalan tubuh manusia, maka akan tahun sebelum pemahaman yang lengkap dari koneksi alergi-hormon muncul. Namun, hubungan yang jelas antara kedua ada, sehingga penting untuk mempertimbangkan komplikasi hormon mungkin sangat dikaitkan dengan pengobatan alergi.

Daftar Pustaka :

  • Omer Ibrahi1, Wilma F. Bergfeld, Melissa Piliang, Eosinophilic Esophagitis: Another Atopy-Related Alopecia Areata Trigger? Journal Investigated Allergy Dermatology Simposium Proceeding. November 2015Volume 17, Issue 2, Pages 58–60. https://doi.org/10.1038/jidsymp.2015.43

  • Roby RR, Richardson RH, Vojdani A. Hormone allergy. Am J Reprod Immunol. 2006 Apr;55(4):307-13.
  • Mishuk VP, Saiapin SR. Endocrine mechanisms of the pathogenesis of nocturnal asthma. Probl Tuberk Bolezn Legk. 2005;(8):57-60.
  • Russell R. Roby, Richard H. Richardson, Aristo Vojdani. Hormone Allergy. ,American Journal of Reproductive Immunology in April of 2006.
  • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ.Altered pituitary-adrenal interaction in nocturnal asthma. Allergy Clin Immunol. 2003 Jul;112(1):52-7.
  • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ. Elevated serum melatonin is associated with the nocturnal worsening of asthma. J Allergy Clin Immunol. 2003 Sep;112(3):513-7.
  • Gonzalez Barcala FJ, Pena A, Herrero L, Urtaza A, García Domínguez M, Valdes Cuadrado L. Young man with asthma and infertility. Monaldi Arch Chest Dis. 2009 Dec;71(4):180-1.
  • Frapsauce C, Berthaut I, de Larouziere V, d’Argent EM, Autegarden JE, Elloumi H, Antoine JM, Mandelbaum J. Successful pregnancy by insemination of spermatozoa in a woman with a human seminal plasma allergy: should in vitro fertilization be considered first? Fertil Steril. 2010 Jul;94(2):753.e1-3. Epub 2010 Feb 20.
  • Hanzlikova J, Ulcova-Gallova Z, Malkusova I, Sefrna F, Panzner P. TH1-TH2 response and the atopy risk in patients with reproduction failure. Am J Reprod Immunol. 2009 Mar;61(3):213-20.
  • Müller L, Vogel M, Stadler M, Truffer R, Rohner E, Stadler BM. Sensitization to wasp venom does not induce autoantibodies leading to infertility. Mol Immunol. 2008 Aug;45(14):3775-85. Epub 2008 Jul 15.
  • Sutherland ER, Ellison MC, Kraft M, Martin RJ. Altered pituitary-adrenal interaction in nocturnal asthma. J Allergy Clin Immunol. 2003 Jul;112(1):52-7.
  • Bell, John R. “Some women may be allergic to hormones.” OB GYN News 41.9:19, 2006.
  • Fishman, Henry J., M.D. “Female Hormones May Affect Allergies, Asthma.” February 9, 2006.
  • National Women’s Health Resource Center. “Allergies and women’s health.” National Women’s Health Report 24:1, 2002.
    “Puberty: Physiology.” Geneva Foundation for Medical Education and Research. <http://www.gfmer.ch/Endo/Lectures_10/Puberty_%20Physiology.htm#Adrenal%20Steroids&gt; (Accessed October 31, 2007.)
  • Roby, Russell R., Richard H. Richardson, and Aristo Vojdani. “Hormone Allergy.” American Journal of Reproductive Immunology 55:307, 2006.
  • Roby, Russell, M.D., J.D. “Hormone Imbalance – Hormone Allergy.” <http://www.onlineallergycenter.com/treatments/hormone_imbalance.htm&gt; (Accessed November 4, 2007.)
  • Shiel, William C., Jr., MD FACP FACR. “Cortisone Injection (Corticosteroid Injection) of Soft Tissues & Joints” <http://www.medicinenet.com/cortisone_injection/article.htm&gt; (Accessed November 1, 2007.)
  • Starnbach, Michael N. “The Truth About Your Immune System (Harvard Special Health Report).” Harvard Health Publications, 2004.
  • Tweed, Vera. “Women’s health handbook take charge of your hormones: are your hormones wreaking havoc with your health?” Better Nutrition 68: 44, 2006.
    University of Texas at Austin. “Evidence Of Estrogen And Progesterone Hormone Allergy Discovered.” ScienceDaily 30 March 2006. 5 November 2007
  • Wilkinson, S.M., P.H. Cartwright, and J.S.C. English. “Hydrocortisone: an important cutaneous allergen.” The Lancet 337:761, March 1991.
  • Wurtzman, Mitchell. “New clues to premenstrual skin flare-ups.” Total Health 17 n.6:16, 1995.
  • Yawn, Barbara P. “Asthma therapy: does your patient need inhaled steroids?.” Consultant 43.9: 1073, 2003.
  • Russell R. Roby, Dick Richardson, Relief of Asthma Symptoms with Dilutions of Progesterone”
  • Russell R. Roby, Dick Richardson. Prevention of Sinusitis Using Intranasal Influenzavirus Vaccine”
  • M.R. Sneller, and R.R. Roby. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. I. A 12-month study in and out of doors.”
  • R.R. Roby, and M.R. Sneller. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. II. Correlations of skin tests with mold frequency.”
  • M.R. Sneller, R.R. Roby. and L.M. Thurmond, B.S.. Incidence of fungal spores at the homes of allergic patients in an agricultural community. III. Associations with local crops.”
  • C. R. Mabray, M. L. Burditt, T. L. Martin, C. R. Jaynes, and J. R. Hayes,Treatment of Common Gynecologic-Endocrinologic Symptoms by Allergy Management Procedures
  • Joseph B. Miller, MD.Relief of Premenstrual Symptoms, Dysmenorrhea, and Contraceptive Tablet Intolerance”. NY Times review of Dr. Atkins’ Diet” July 7, 2002.
  • Mabray, MD, M. L. Burditt, MD, T. L. Martin, MD, C. R. Jaynes, MD, and J. R. Hayes,Treatment of Common Gynecologic-Endocrinologic Symptoms by Allergy Management Procedures. Obstetrics & Gynecology Vol. 59, No. 5, May 1982
  • Russell R. Roby, Richard H. Richardson, Aristo Vojdani,. “Evidence of estrogen and progesterone hormone allergy” January 17, 2006.
  • Gilhar, A., Etzioni, A., and Paus, R. Alopecia Areata. N Engl J Med. 2012; 366: 1515–1525
  • Hordinsky, M. and Ericson, M. Autoimmunity: Alopecia areata. J Investig Dermatol Symp Proc. 2004; 9: 73–78
  • Huang, K.P., Mullangi, S., Guo, Y. et al. Autoimmune, atopic, and mental health comorbid conditions associated with alopecia areata in the united states. JAMA Dermatol. 2013; 149: 789–794
  • Liacouras, C.A., Furuta, G.T., Hirano, I. et al. Eosinophilic esophagitis: Updated consensus recommendations for children and adults. J Allergy Clin Immunol. 2011; 128: 3–20
  • Noel, R.J., Putnam, P.E., and Rothenberg, M.E. Eosinophilic esophagitis. N Engl J Med. 2004; 351: 940–941
  • Papadopoulou, A. and Dias, J.A. Eosinophilic esophagitis: An emerging disease in childhood – review of diagnostic and management strategies. Front Pediatr. 2014; 2: 129
  • Paus, R. and Arck, P. Neuroendocrine perspectives in alopecia areata: does stress play a role?. J Invest Dermatol. 2009; 129: 1324–132wp-1516367903901..jpg

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s