Patofisiologi Terkini Rinitis Alergi

Patofisiologi Terkini Rinitis Alergi

1466668103512.jpgRinitis alergi merupakan suatu kumpulan gejala kelainan hidung yang disebabkan proses inflamasi yang diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE) akibat paparan alergen pada mukosa hidung.  Gejala rinitis alergi meliputi hidung gatal, bersin berulang, cairan hidung yang jernih dan hidung tersumbat yang bersifat hilang timbul atau reversibel, secara spontan atau dengan pengobatan. Rhinitis alergi melibatkan radang selaput lendir hidung, mata, tabung eustachius, telinga tengah, sinus, dan faring. Hidung selalu terlibat, dan organ-organ lain yang terpengaruh pada individu tertentu. Radang selaput lendir ditandai dengan interaksi yang kompleks dari mediator inflamasi tapi akhirnya dipicu oleh imunoglobulin E (IgE) respon -dimediasi ke protein ekstrinsik.

Kecenderungan untuk menjadi alergi, atau IgE-mediated, reaksi terhadap alergen ekstrinsik (protein mampu menyebabkan reaksi alergi) memiliki komponen genetik. Pada individu yang rentan, paparan protein asing tertentu menyebabkan sensitisasi alergi, yang dicirikan oleh produksi IgE spesifik ditujukan terhadap protein tertentu. Ini khusus mantel IgE permukaan sel mast, yang hadir dalam mukosa hidung. Ketika protein tertentu (misalnya, serbuk sari biji-bijian tertentu) yang dihirup ke dalam hidung, dapat mengikat IgE pada sel mast, menyebabkan pembebasan segera dan tertunda dari sejumlah mediator.

Mediator yang dikeluarkan segera termasuk histamin, tryptase, chymase, kinins, dan heparin.  Sel-sel mast cepat mensintesis mediator lainnya, termasuk leukotrien dan prostaglandin D2.  Mediator ini melalui berbagai interaksi akhirnya mengarah pada gejala rhinorrhea (yaitu, hidung tersumbat, bersin-bersin, gatal, kemerahan, merobek, bengkak, tekanan telinga, postnasal drip). Kelenjar mukosa distimulasi, menyebabkan peningkatan sekresi. Permeabilitas pembuluh darah meningkat, menyebabkan eksudasi plasma. Vasodilatasi terjadi, yang menyebabkan kebuntuan hidung dan tekanan. saraf sensorik dirangsang, menyebabkan bersin dan gatal-gatal. Semua peristiwa ini dapat terjadi pada menit; maka, reaksi ini disebut awal, atau langsung, fase reaksi.

Selama 4-8 jam, mediator ini, melalui interaksi yang rumit dari peristiwa, mengarah pada perekrutan sel inflamasi lain untuk mukosa, seperti neutrofil, eosinofil, limfosit, dan makrofag.  Hal ini menyebabkan peradangan lanjutan, disebut tanggapan akhir-fase. Gejala-gejala respon akhir-fase yang mirip dengan tahap awal, tetapi kurang bersin dan gatal-gatal dan lebih kemacetan dan lendir produksi cenderung terjadi.  Tahap akhir dapat bertahan selama berjam-jam atau hari. Efek sistemik, termasuk kelelahan, mengantuk, dan malaise, dapat terjadi dari respon inflamasi. Gejala ini sering menyebabkan gangguan kualitas hidup.

Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/reaksi alergi. Reaksi alergiterdiri dari 2 fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau reaksi alergi fasecepat (RAFC) yang berlangsung secara kontak dengan alergen sampai 1 jamsetelahnya dan Late Phase Allergic Reaction atau reaksi tipe lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag ataumonosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell /APC) akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah di proses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptida dan bergabung denganmolekul HLA kelas II membentuk komplek peptida MHC kelas II (Major  Histocompatility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL 1) angakan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2.Th2 akan menghasilkan akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL 3,IL 4, IL 5 dan IL 13. IL 4 dan IL 13 dapat diikat oleh reseptornya dipermukaan sellimfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksiimunoglobulin E. IgE di sirkulasi diikat oleh reseptor IgE dipermukaan selmastoid atau basofil (sel mediiator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Prosesini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergenspesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofildengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Preformed  Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan newly formedmediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), leukotrien D4 (LT D4), leukotrien C4 (LT C4), bradykinin, Pletelet Activating Factor (PAF), dan berbagaisitokin (IL 3, IL4, IL5, IL6, GM-CSF (Granulosyte Macrophage Colony).

Penemuan antibodi E atau imunoglobulin E pada tahun 1966 oleh Ishizaka (Amerika) dan Johansson &  Bennich (Swedia) sebagai antibodi penghubung timbulnya penyakit alergi, telah membuka cakrawala baru untuk pemeriksaan diagnostik. Selanjutnya pemeriksaan invivo dan invitro ditujukan untuk membuktikan adanya IgE yang bebas atau terikat pada sel atau mendeteksi mediator yang dilepaskan.   Reaksi alergi terdiri dari dua fase, yaitu reaksi alergi fase cepat (RAFC) dan reaksi alergi fase lambat (RAFL). RAFC berlangsung sampai satu jam setelah kontak dengan alergen, dan mencapai puncaknya pada 15-20  menit pasca paparan alergen, sedangkan RAFL berlangsung 24-48 jam kemudian, dengan puncak reaksi pada 4-8 jam pertama. Alergen yang menempel pada mukosa hidung untuk pertama kali, terhirup bersama inhalasi udara nafas. Alergen yang terdeposit oleh makrofag atau sel dendrit yang berfungsi sebagai fagosit dan sel penyaji antigen (Antigen Presenting Cell atau APC) diproses menjadi peptida pendek yang terdiri atas     7-14 asam amino yang berikatan dengan molekul HLA (Human Leucocyte Antigen) kelas II membentuk kompleks MHC (Major Histocompatibility Complex) kelas II yang kemudian dipresentasikan pada sel Th0 (T helper 0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2.

Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL 3, IL 4, IL 5 dan IL 13. IL 4 dan IL 13 diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE). IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga ke dua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulisasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediator) terutama histamin. Selain histamin dilepaskan juga Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), leukotrien D4 (LTD4), leukotrien C4 (LTC4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin. Inilah yang disebut reaksi alergi fase cepat.

Histamin yang dilepaskan akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersinbersin. Selain itu histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet akan mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain seperti hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid.  Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan neutrofil di jaringan target. Respon ini akan berlanjut, dan mencapai puncaknya 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, neutrofil, basofil dan mastosit serta peningkatan berbagai sitokin pada sekret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperesponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Eosinophilic Derived Protein (EDP) dan lain-lain. Pada fase ini, selain faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi.5,6,9,11 Paparan alergen dosis rendah yang terus menerus pada seseorang penderita yang mempunyai bakat alergi (atopik) dan presentasi alergen oleh sel APC kepada sel B disertai adanya pengaruh sitokin interleukin 4 (IL-4) memacu sel B untuk memproduksi IgE yang terus bertambah jumlahnya. IgE yang diproduksi berada bebas dalam sirkulasi dan sebagian diantaranya berikatan dengan reseptornya dengan afinitas tinggi di permukaan sel basofil dan sel mastosit. Sel mastosit kemudian masuk ke venula di mukosa yang kemudian keluar dari sirkulasi dan berada dalam jaringan termasuk di mukosa dan submukosa hidung.

wp-1510726155282..jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s