Struktur Sistem Imunologi Mukosa

wp-1466348742366.jpgSistem kekebalan dapat membentuk berbagai macam sel dan molekul yang dapat mengenali dan menghilangkan mikroorganisme dalam jumlah besar (virus, bakteri, dan parasit) dan bahan-bahan lain yang berbahaya. Respons imun dibagi menjadi dua bagian yaitu imunitas alamiah dan imunitas didapat. Perbedaan keduanya adalah imunitas alamiah melibatkan mekanisme pertahanan tidak spesifik terhadap patogen tertentu contohnya fagositosis sedangkan imunitas didapat memiliki spesifisitas yang tinggi melalui sel memori. Secara normal, respons imunitas didapat muncul dalam 5-6 hari setelah paparan terhadap antigen. Pada paparan kedua antigen yang sama sistem imun melalui memori imunologi akan berespons lebih cepat dan kuat dan lebih efektif dalam menetralkan dan membersihkan patogen. Sistem imun didapat juga bertahan dalam waktu yang lebih lama. Walaupun terdapat perbedaan demikian, respons imun alamiah dan didapat saling berhubungan satu sama lain, dan keduanya dibutuhkan untuk proteksi imunitas yang efisien. Sel-sel dalam sistem imunitas yang bertanggung jawab terhadap reaksi dan pelepasan molekul terlarut adalah limfosit (B & T), sel fagosit (sel dendritik, makrofag, neutrofil dan eosinofil), dan sel lain seperti basofil dan sel mast. Molekul yang dilepaskan oleh sel-sel ini adalah antibodi, sitokin (interleukin dan interferon), komplemen dan berbagai mediator inflamasi.

Sistem imunitas mukosa  merupakan bagian sistem imunitas yang penting dan berlawanan sifatnya dari sistem imunitas yang lain. Sistem imunitas mukosa lebih bersifat menekan imunitas, karena hal-hal berikut; mukosa berhubungan langsung dengan lingkungan luar dan berhadapan dengan banyak antigen yang terdiri dari bakteri komensal, antigen makanan dan virus dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan sistem imunitas sistemik. Antigen-antigen tersebut  sedapat mungkin dicegah agar tidak menempel mukosa dengan pengikatan oleh IgA, barier fisik dan kimiawi dengan enzim-enzim mukosa. Antigen yang telah menembus mukosa juga dieliminasi dan reaksi imun yang terjadi diatur oleh sel-sel regulator. Hal ini untuk  mencegah terjadinya respons imun yang berlebihan yang akhirnya merugikan oleh karena adanya paparan antigen yang sangat banyak. Sedangkan sistem imunitas sistemik bersifat memicu respons imun oleh karena adanya paparan antigen. Sistem imunitas mukosa menggunakan beberapa mekanisme untuk melindungi pejamu dari respons imunitas yang berlebihan terhadap isi lumen usus. Mekanisme yang dipakai adalah barier fisik yang kuat, adanya enzim luminal yang mempengaruhi antigen diri yang alami, adanya sel T regulator spesifik yang diatur fungsinya oleh jaringan limfoid usus, dan adanya produksi antibodi IgA sekretori yang paling cocok dengan lingkungan usus. Semua mekanisme ini ditujukan untuk menekan respons imunitas. Kelainan beberapa komponen ini dapat menyebabkan peradangan  atau alergi.

STRUKTUR SISTEM IMUNOLOGI MUKOSA

  • Jaringan mukosa ditemukan di saluran napas bagian atas, saluran cerna, saluran genital dan kelenjar mammae. Mekanisme proteksi terhadap antigen pada mukosa, terdiri dari: membran mukosa yang menutupi mukosa dan enzim adalah perlindungan mekanik dan kimiawi yang sangat kuat, sistem imun mukosa innate berupa eliminasi antigen dengan cara fagositosis dan lisis, sistem imun mukosa adaptif  dimana selain melindungi permukaan mukosa juga melindungi bagian dalam badan dari masuknya antigen lingkungan. Sistem imun lokal ini merupakan 80% dari semua imunosit tubuh pada orang sehat. Sel-sel ini terakumulasi di dalam atau transit antara berbagai Mucosa-Assosiated Lymphoid Ttisssue (MALT), bersama-sama membentuk sistem organ limfoid terbesar pada mamalia.
  • Sistem imun mukosa mempunyai tiga fungsi utama yaitu; (i) melindungi membran mukosa dari invasi dan kolonisasi mikroba berbahaya yang mungkin menembus masuk, (ii) melindungi pengambilan (uptake) antigen-antigen terdegradasi meliputi protein-protein asing dari makanan yang tercerna, material di udara yang terhirup dan bakteri komensal, (iii) melindungi berkembangnya respons imun yang berpotensi merugikan terhadap antigen-antigen tersebut bila antigen tersebut mencapai dalam tubuh. Sehingga disini MALT menyeleksi mekanisme efektor yang sesuai dan mengatur intensitasnya untuk menghindari kerusakan jaringan dan proses imun berlebih. Sistem MALT terlihat sebagai suatu sistem imun kompartemenisasi yang bagus dan fungsi esensialnya berdiri sendiri dari aparatus sistem imun. Secara fungsional, MALT terdiri dari dua komponen yaitu jaringan limfoid mukosa terorganisir dan sistem imunologi mukosa tersebar.
  • Jaringan limfoid mukosa terorganisir  Jaringan limfoid ini terdiri dari tonsil, Peyer’s patch dan folikel limfoid yang terisolir. Sekitar tenggorok ditemukan 3 golongan tonsil yaitu tonsil palatina, tonsil lingual dan tonsil faringeal atau adenoid yang merupakan cincin jaringan limfoid sekitar faring yang disebut waldeyer’s ring. Limfoid Peyer’s patch merupakan agregat folikel limfoid di mukosa gastrointestinal yang ditemukan di seluruh jejunum dan ileum dan merupakan  tempat prekursor sel B yang dapat melakukan switching untuk memproduksi IgA dan membentuk sel T memori yang selanjutnya bermigrasi ke mukosa distal dan tempat-tempat  nonmukosal. Limfosit B dan T yang antigen reaktif tersebut kemudian bermigrasi ke kelenjar limfe mesenterik lalu ke duktus torasikus dan akhirnya ke pembuluh darah. Selanjutnya sel tersebut menuju lamina propria berbagai jaringan mukosa.
  • Sistem imunologi mukosa tersebar Sistem imunologi mukosa tersebar terdiri atas limfosit intraepitel dan lamina propria. Limfosit intraepitel ditemukan tersebar difus dalam epitel mukosa dan tidak memiliki struktur yang jelas. Limfosit intraepitel terbanyak adalah sel Y (>90%), yang dapat berupa CD8+ atau CD4 CD8. Lamina propria terletak tepat dibawah epitel dan merupakan struktur yang longgar. Fungsi efektor lamina propria adalah sekresi antibodi terutama IgA yang merupakan hasil dari sejumlah besar sel plasma yang memproduksi IgA. Antibodi IgA diangkut ke sel epitel melalui reseptor imunoglobulin polimerik dan selanjutnya disekresikan ke dalam lumen. Lamina propria mengandung banyak sel CD4+ dan CD8+ (CD4+ 2x lebih banyak dari CD8+), juga sel B terbanyak dengan ekspresi IgM dan hanya sebagian kecil dengan ekspresi IgA. Meskipun hanya sedikit jumlah sel B yang ada di lamina propria, tetapi jumlah sel B yang dapat memproduksi IgG dapat ditingkatkan dengan cepat bila diperlukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s