Pemeriksaan Diagnosis Imunologi

 

Pemeriksaan diagnosis Imunitas humoral

  • Hitung sel B  Sel B dapat dikenal dengan petanda reseptor imunoglobulin pada permukaannya (surface marker imunoglobulin = SmIg). Selain itu sel limfosit B juga mempunyai reseptor komplemen dan reseptor untuk agregat imunoglobulin (EAC rosettes). Sel makrofag, sel NK dan beberapa subopulasi sel T juga mempunyai ekspresi permukaan yang sama sehingga pemeriksaan sel B dengan mengenali reseptor ini kurang akurat dibandingkan dengan pemeriksaan terhadap reseptor imunoglobulin permukaan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan antibodi monoklonal yang tersedia di pasaran, seperti juga pemeriksaan untuk sel T, makrofag, dan sel NK. Teknik pemeriksaan dapat dilihat pada brosur kit yang dibuat oleh pabrik. Dengan pemeriksaan tersebut didapatkan nilai normal sel B darah perifer sekitar 10-20%. Interpretasi hasil tergantung baku normal yang dibuat setiap laboratorium.
  • Antibodi yang sudah ada (‘preexisting antibodies’) Untuk menentukan fungsi produksi antibodi dapat dilakukan dengan mengukur antibodi hasil imunisasi sebelumnya atau dari infeksi alamiah. Pengukuran antibodi yang dapat dilakukan secara invitro meliputi antibodi terhadap tetanus, difteri, streptokokus, virus polio, campak, rubela serta beberapa jenis antigen lain di alam bebas.
  • Respons antibodi terhadap antigen yang disuntikkan  Pemeriksaan ini ada hubungannya dengan pemeriksaan preexisting antibody, yaitu pemeriksaan antibodi spesifik terhadap antigen yang disuntikkan sebelumnya. Pada penderita defisiensi imun tidak boleh digunakan antigen vaksin virus hidup atau yang dilemahkan. Untuk ini umumnya digunakan antigen polisakarida (misalnya pneumokokus atau fraksi polisakarida Hemophilus influenzae tipe B) serta antigen protein (misalnya tetanus, difteri). Respons disebut normal bila terjadi peningkatan kadar antibodi 4 kali setelah 3-4 minggu dibandingkan dengan sebelum penyuntikan antigen.
  • Biopsi kelenjar getah bening Biopsi kelenjar getah bening dapat membantu menegakkan diagnosis defisiensi imun atau menyingkirkan kemungkinan keganasan sistem retikuloendotetial yang dapat terjadi pada penderita defisiensi imun dengan gejala limfadenopati yang mencolok. Pemeriksaan biopsi kelenjar getah bening ini tidak dilakukan secara rutin karena risiko infeksi dan anestesi. Yang paling baik diberikan suntikan antigen di daerah anterior paha dan dilakukan biopsi kelenjar inguinal sisi yang sama, setelah 5-7 hari kemudian. Pada penderita defisiensi imun dapat dilihat jumlah sel plasma yang rendah, peningkatan jumlah folikel limfoid primer, disorganisasi selular, korteks yang tipis dan tidak ada pusat germinal. Selain itu dapat juga terlihat peningkatan jumlah histiosit dan sel endotelial yang lain.
  • Imunoglobulin sekretori  Defisiensi imunoglobulin sekretori tanpa defisiensi imunoglobulin serum biasanya jarang terjadi. Pemeriksaan ini dilakukan bila ada kecurigaan defisiensi imunoglobulin serum. Pemeriksaan yang paling mudah adalah dengan menggunakan bahan air mata.
  • Subkelas IgG  Pemeriksaan ini dilakukan pada penderita infeksi berulang dengan nilai IgG tota1 normal atau hanya sedikit di bawah normal dengan atau hanya defisiensi IgA selektif. Defisiensi IgG2 (kurang lebih 20% dari imunoglobulin serum) dapat terjadi sendiri atau disertai dengan defisiensi IgA selektif atau defisiensi IgG4. Bila dijumpai defisiensi imunoglobulin G2 perlu dilakukan pemeriksaan kemampuan pembentukan antibodi terhadap vaksin dengan antigen polisakarida seperti pneumokokus dengan atau Haemophilus influenzae tipe B. Teknik pemeriksaannya sama dengan teknik pemeriksaan Ig G tota1 yaitu dengan cara imunodifusi radial.
  • Pemeriksaan metabolik  Dengan menggunakan pelacak (tracer) radiolabel terhadap imunoglobulin dapat diketahui hilangnya imunoglobulin melalui usus.

 

Pemeriksaan Diagnosis Imunitas selular

  • Hitung sel T  Sel limfosit T mempunyai sifat mengikat sel eritrosit domba pada membran permukaan yang dapat membentuk roset eritrosit .Dengan dasar ini sel ini dapat dihitung dengan menghitung persentase sel limfosit yang membentuk roset dengan eritrosit domba. Untuk menghitung jumlah mutlak limfosit T, persentase dikalikan jumlah limfosit total yang didapat dari perkalian hitung jenis limfosit dengan jumlah leukosit total darah tepi. Sebaiknya jangan menghitung limfosit tota1 dari suspensi limfosit karena banyak sel hilang pada proses isolasi limfosit. Antigen permukaan sel limfosit T yang lain dapat dikenal dengan menggunakan antibodi monoklonal. Dengan antibodi monoklonal dapat dibuat klasifikasi fenotip sesuai dengan fungsinya. Antibodi monoklonal diproduksi dari klon tunggal sel hibrida yang disebut hibridoma. Sel B limpa diambil dari tikus yang diimunisasi dengan partikel antigen yang difusikan dengan sel plasma neoplastik murin. Sel hibrida ini dike1ompokkan dalam satu klon untuk membuat jalur sel yang dapat memproduksi antibodi spesifik terhadap antigen yang disuntikkan. Keuntungan antibodi monoklonal dibandingkan dengan antibodi poliklonal ialah antibodi monoklonal dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan spesifitas terhadap partikel antigen dan dapat menghilangkan reaksi silang terhadap kontaminasi antibody.
  • Respons proliferasi limfosit in vitro  Pemeriksaan uji fungsi sel T umumnya meliputi uji in vitro respons terhadap mitogen (misalnya fitohemaglutinin, concanavalin A atau pokeweed mitogen), antigen (misalnya Candida albicans), atau sel alogenik pada biakan campuran leukosit (mixed leukocyte culture). Untuk uji penyaring biasanya dilakukan uji kulit tipe lambat lebih dulu (misalnya Candida albicans). Bila didapatkan hasil positif dengan jumlah limfosit total normal biasanya menyingkirkan kemungkinan defisiensi imun selular yang berat. Pada penderita dengan riwayat klinis dan uji kulit positif, evaluasi in vitro perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis. Bila limfosit yang belum terstimulasi terpajan pada mitogen, antigen, atau sel alogenik maka akan terjadi transformasi menjadi sel yang lebih besar menyerupai sel blast dengan sintesis DNA dan dapat terjadi pembelahan sel (blastogenesis). Aktivasi limfosit ini dalam laboratorium dapat diukur dari jumlah ambilan asam nukleat radiolabel ke dalam DNA, presipitasi DNA radiolabel dan hitungan label berikutnya.
  • Sensitisasi aktif dengan 2,4 dinitrochlorobenzena (DNCB)  Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menilai imunitas selular. Karena bahan ini mempunyai efek karsinogenik dan iritasi yang hebat, maka pemeriksaan ini jarang dilakukan.
  • Biopsi kelenjar getah bening Biopsi kelenjar getah bening dilakukan untuk melihat adanya defisiensi limfosit pada lapisan korteks bagian dalam yang bersifat dependen terhadap timus. Karena risiko anestesi, perdarahan dan infeksi, biopsi kelenjar getah bening hanya dilakukan bila hasil pemeriksaan laboratorium tidak menyokong diagnosis. Pada beberapa kasus defisiensi imun kombinasi yang berat, biopsi kelenjar timus diperlukan untuk konfirmasi diagnosis (pulau dan sarang endodermal tidak menjadi limfoid, tidak ditemukan jisim Hassal).
  • Analisis kromosom  Pada penderita defisiensi sel T berat yang pemah menerima transfusi sel leukosit dari donor jenis kelamin yang berbeda. penentuan kromosom dapat menunjukkan kimerisme kromosom sex (sex chromosome chimerisme) karena kesanggupan limfosit donor untuk menimbulkan graft yang bertahan hidup pada pejamu.
  • Lain-lain  Pada beberapa bentuk defisiensi imun kombinasi dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui defisiensi adenosin deaminase (ADA) atau nukleosid fosforilase (PNP). Selain itu pada beberapa bentuk defisiensi imun selular dilakukan pemeriksaan beberapa hormon timus (misalnya timosin, faktor timus serum) yang biasanya dilakukan untuk kepentingan riset.

 

Pemeriksaan Diagnosis Fagosit   Pemeriksaan ini terutama dilakukan pada penderita dengan infeksi bakteri kronik atau berulang terutama bila tidak ditemukan kelainan imunitas humoral, selular, atau keduanya.

  • Uji nitroblue tetrazolium (NBT) Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengukur reduksi zat warna pada penyakit granulomatosis berdasarkan pada peningkatan aktivitas metabolisme selama fagositosis oleh sel granulosit normal. Pemeriksaan dilakukan dengan stimulasi endotoksin atau tanpa endotoksin.  Cara kerja  Dua tetes darah contoh penderita tanpa antikoagu1an diteteskan pada endotoksin pada gelas objek dalam suatu lingkaran yang dibuat dengan spidol tahan air. Buat juga kontrol dari individu normal. Kemudian dilakukan inkubasi selama 45 menit dalam cawan petri (dengan kapas basah) dalam suhu 37oC. Sete1ah inkubasi, cuci bekuan dengan air garam faal memakai semprit secara hati-hati sehingga neutrofil dan monosit tetap tinggal pada gelas objek. Buang kelebihan garam faal dari objek gelas. Setelah itu setiap preparat ditambahkan 3 tetes larutan NBT dan 1angsung tutup dengan gelas dek yang besar, dan lanjutkan dengan inkubasi pada suhu 37oC selama 20 menit. Angkat gelas dek dan cuci preparat hati-hati dengan garam faa1, dan biarkan kering di udara. Lakukan fiksasi dengan metanol absolut selama 60 detik kemudian cuci dengan air suling. Keringkan di udara dan lanjutkan dengan pewarnaan larutan safranin 1% selama 5 menit. Setelah itu cuci dengan air keran dan biarkan kering di udara, lalu tutup dengan gelas dek.  Penilaian  Hitung persentase sel yang berwarna biru (karena NBT) dibawah mikroskop. ………. % sel NBT positif tanpa stimulasi (tanpa endotoksin). Normal >45%, ………. % sel NBT positif dengan stimu1asi (dengan endotoksin). Normal >
  • Uji fagosit dan pembunuh bakteri  Pemeriksaan ini merupakan penilaian definitif untuk fungsi aktivitas granulosit (serta monosit pada penderita tertentu) seperti uji aktivitas opsonisasi serum. Cara kerja    Lakukan isolasi leukosit dari darah perifer, kemudian cuci, dihitung dan buat suspensi dalam medium yang mengandumg serum normal (sebagai sumber opsonin) dan sejumlah sama bakteri segar yang sedang tumbuh (biasanya Staphylococcus aureus atau Escherichia coli). Setelah diinkubasi dan agitasi pada suhu 37oC selama 2 jam, alikuot diambil dari suspensi leukosit bakteri pada menit ke 0, 30, 60 dan 120. Selanjutnya jumlah bakteri yang hidup dinilai dengan tehnik pour plate. Setelah 120 menit, campuran suspensi bakteri-leukosit disentrifugasi sehingga leukosit dan bakteri yang difagosit berada dalam endapan sedangkan bakteri bebas berada pada supernatan. Terhadap endapan dan supernatan dilakukan penilaian terhadap bakteri yang hidup. Penilaian hasil  Leukosit normal dapat memfagosit dan membunuh 95% bakteri dalam 120 menit. Pada penderita penyakit granulomatosis, kemampuan membunuh bakteri kurang dari 10% dan dapat ditemukan bakteri hidup yang menunjukkan fagositosis dapat terjadi tetapi terdapat gangguan pemusnahan bakteri. Pada defek opsonisasi, dapat ditemukan bakteri hidup pada larutan supernatant.
  • Kemotaktik leukosit  Migrasi langsung (kemotaktik) sel efektor (biasanya granulosit atau monosit) ke tempat masuknya antigen bertujuan memusnahkan dengan cepat benda asing tersebut. Kerentanan individu terhadap infeksi dapat disebabkan adanya defek intrinsik selular atau kemotaksis, adanya inhibitor kemotaksis atau gangguan (absen, inhibisi atau disfungsi) faktor serum atau jaringan yang menunjang kemotaksis sel.
  • Uji lokalisasi in vivo (Rebuck skin window) Kulit dilukai dengan pisau seluas 4 mm2 sampai terjadi perdarahan kapiler .Gelas objek ditempelkan pada luka dan diganti setiap ½ – 2 jam selama 24 jam. Gelas objek yang mengandung leukosit yang menempel diwarnai dan dianalisis. Sel granulosit PMN adalah sel yang mula-mula didapatkan dalam 2 jam. Dalam 12 jam sel granulosit digantikan oleh sel MN.
  • Uji kemotaksis in vitro  Sel granulosit atau monosit diisolasi dari darah perifer dan dipaparkan dengan berbagai faktor kemotaktik. Jumlah sel yang bergerak ke arah faktor kemotaktik atau bergerak secara random tanpa faktor kemotaktik dapat dihitung dengan milipore filter (metode kamar Beydeon) atau dengan agarose pada cawan petri plastic.
  • Pemeriksaan limpa Limpa mempunyai peran penting pada proses fagosit disamping imunitas humoral. Tidak adanya limpa perlu dicurigai pada penderita sepsis berulang. bentuk eritrosit yang abnormal atau ditemukan jisim Howell-Jolly pada pemeriksaan darah tepi. Untuk melihat adanya 1impa dapat di1akukan pemeriksaan scanning.

 

 

Fungsi leukosit lain

  • Pemeriksaan fungsi leukosit yang lain di1akukan pada penderita dengan defek ringan yang tidak terdeteksi atau pemeriksaan lengkap untuk kepentingan penelitian. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan enzim mieloperoksidase, glutation peroksidase, lisozim, glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD), piruvat kinase serta pemeriksaan kadar jodium, pengukuran kemiluminasi dan mikrografik elektronik. Pada keadaan neutropeni, pemeriksaan selanjutnya meliputi hitung leukosit secara serial, respons leukosit terhadap kortikosteroid, adrenalin, endotoksin serta pengukuran antibodi leukosit dan pemeriksaan sumsum tulang.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s