10 Permasalahan Alergi Makanan Pada Anak

10 Permasalahan Alergi Makanan Pada Anak

 wp-1465316241683.jpgDalam dekade terakhir ini ada kecenderungan kasus alergi pada anak meningkat. Masalah alergi akan menjadi masalah yang cukup dominan kesehatan  di masa yang akan datang. Penyakit infeksi tampaknya akan semakin berkurang karena semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat akan pencegahan penyakit infeksi. Kasus alergi pada anak belum banyak diperhatikan secara baik dan benar baik oleh para orang tua atau sebagian kalangan dokter sekalipun.

Penderita yang datang ke dokter spesialis anak atau Pusat Pelayanan Kesehatan Anak lainnya tampaknya semakin didominasi oleh kelainan alergi pada anak.  Ada kecenderungan bahwa diagnosis alergi ini belum banyak ditegakkan. Pada umumnya tanda dan gejala alergi itu sendiri masih banyak yang belum diungkapkan oleh para dokter. Sehingga penanganan penderita alergi  belum banyak dilakukan secara benar dan paripurna. Beberapa orang tua yang mempunyai anak alergi sering terlihat putus asa karena penyakit tersebut sering kambuh dan terulang. Padahal anak sudah berkali-kali minum obat bahkan antibiotika yang paling ampuh sekalipun. Ditandai dengan seringnya berpindah-pindah dokter anak karena sakit yang diderita anaknya tidak kunjung membaik.

     Alergi pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah diketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal. Padahal alergi dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Alergi pada anak  sangat beresiko untuk mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Resiko dan tanda alergi dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan sejak dalam kandunganpun kadang-kadang sudah dapat terdeteksi. Alergi itu dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan Pertumbuhan dan perkembangan Anak secara optimal.

PERMASALAHAN ALERGI PADA ANAK

Permasalahan alergi pada anak mungkin tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan . Sering berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem tubuh yang terganggu dan bahaya komplikasi yang terjadi  tampaknya merupakan akibat yang harus lebih diperhatikan demi terbentuknya Pertumbuhan dan Perkembangan Anak yang optimal. Permasalahan penanganan alergi pada anak yang sering kita temukan adalah :

  1. ALERGI MASIH MISTERIUS Dewasa ini teknologi kedokteran telah maju demikian pesat terutama ilmu alergi dan imunologi, Namun tampaknya kasus alergi masih banyak yang belum terungkap terutama patogenesis penyakit. Manifestasi klinis yang menyerang berbagai organ tubuh belum bisa dijelaskan secara lengkap. Sehingga penatalaksanaan dan pencegahan alergi belum dapat memuaskan secara optimal.
  2. PERHATIAN TERHADAP ALERGI PADA ANAK KURANG  Di negara berkembang termasuk Indonesia, perhatian dokter atau klinisi lainnya terhadap kasus alergi pada anak sangat kurang dibandingkan persoalan infeksi. Sehingga sering terjadi under diagnosis dalam  penegakkan diagnosis. Alergi sering dianggap sebagai penyakit infeksi baik akut maupun kronis. Sehingga banyak keluhan atau gejala alergi sering di obati dengan antibiotika. Sering dijumpai keluhan Batuk Kronis berulang atau alergi pencernaan dengan gangguan kenaikkan berat badan karena alergi sering diobati sebagai penyakit kronis seperti Tuberkulosis (TBC), infeksi parasit cacing, infeksi saluran kemih atau infeksi kronis lainnya. Karena memang tanda dan gejala alergi memang mirip dengan gejala infeksi kronis seperti kronis tersebut. Sering terjadi orang tua penderita mengetahui kalau anaknya menderita alergi setelah sekian lama menderita, bahkan banyak juga yang baru mengetahui anaknya alergi setelah berganti banyak dokter.
  3. PENATALAKSANAAN ALERGI BELUM OPTIMAL Penanganan alergi sering tidak paripurna dan menyeluruh, karena hanya mengandalkan pemberian obat-obatan tidak memperhatikan pencetus atau pemicunya. Terdapat kecenderungan pasien akan minum obat dalam jangka panjang. Padahal pemberian obat jangka sangat berbahaya, terutama obat golongan steroid. Tindakan paling ideal menghentikan gejala alergi adalah dengan menghindari pencetusnya. Dalam penatalaksanaan alergi yang paling diutamakan adalah masalah edukasi ke penderita.
  4. Kekambuhan berulang Sering kambuh dan berulangnya keluhan alergi, sehingga sering orang tua frustasi akhirnya berpindah-pindah ke beberapa dokter. Bila penatalaksanaan alergi tidak dilakukan secara baik dan benar maka keluhan alergi akan berulang dan ada kecenderungan membandel. Pemberian obat hanya bersifat sementara membaik kemudian akan timbul gejalanya berulang lagi. Bahkan kadang pemberian obat juga tidak menimbulkan perbaikkan. hal ini terjadi karena tidak mendeteksi atau m,enghindari penyebab alerginya. Berulangnya kekekambuhan tersebut akan menyebabkan meningkatnya pengeluaran  biaya kesehatan. Tetapi yang harus lebih diperhatikan adalah meningkatkannya resiko untuk terjadinya efek samping akibat pemberian obat. Tak jarang para klinisi memberikan antibiotika dan steroid dalam jangka waktu yang lama. Setelah berganti-ganti dokter biasanya orang tua pasien baru menyadari sepenuhnya kalau anaknya alergi setelah mengalami sendiri kalau keluhannya membaik setelah dilakukan penghindaran makanan tanpa harus minum obat.
  5. TIMBULNYA KOMPLIKASI  Komplikasi yang dapat ditimbulkan adalah terjadinya gangguan pertumbuhan : malnutrisi, berat badan sulit naik, kesulitan makan berulang dan lama.  Kadangkala juga bias terjadi sebaliknya yaitu menimbulkan kegemukan.  Sedangkan komplikasi yang cukup mengganggu adalah adanya gangguan perkembangan berupa gangguan belajar, gangguan pemusatan perhatian, gangguan emosi, agresif, keterlambatan bicara, keterlambatan bicara, bahkan dapat memicu atau memperberat gejala autisme.
  6. Mengganggu Prestasi Sekolah Mengganggu prestasi sekolah, karena seringnya absen di pelajaran sekolah dan yang     lebih utama juga disebabkan adanya gangguan belajar, gangguan konsentrasi  atau pemusatan  perhatian  dan gangguan perilaku lainnya yang disebabkan karena terganggunya fungsi otak pada penderita alergi.
  7. Penyebab Gizi Ganda :  Penderita alergi dapat mengakibatkan gangguan gizi ganda pada anak. Gizi ganda artinya dapat menimbulkan kegemukan dan berat badan lebih atau bahkan sebaliknya terjadi  malnutrisi atau berat badan kurang.
  8. Obesitas atau Kegemukan. Hubungan alergi dan kegemukan  hingga saat ini belum terungkap penyebabnya. Tetapi banyak penelitian dan laporan kasus menyebut bahwa kegemukan pada anak sering terjadi pada anak alergi, terutama di bawah usia 2 tahun.Banyak penelitian mengungkapkan penderita kegemukan sering mengalami alergi atau sebaliknya penderita alergi sebagian mengalami kegemukan.  Kaitan alergi dan kegemukan sampai saat ini masih belum terungkap jelas. Namun, bila hal ini terungkap maka peranan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan sebagai pendekatan penanganan kegemukan sangat penting diteliti lebih jauh. Cynthia M. Visness dkk melaporkan sebuah penelitian dalam  Journal of Allergy and Clinical imunologi tentang kaitan alergi dan kegemukan. Sekitar 26 persen anak-anak yang gemuk, lebih cenderung alergi. Untuk menganalisa ini, penelitian setidaknya melibatkan 4.000 anak berumur 2 sampai 19 tahun. Informasi yang diteliti berupa alergi dan asma. Peneliti melihat tingkat antibodi dan penyebab alergi, berat tubuh, juga respon terhadap demam, eksim dan macam-macam alergi. Sinyal alergi yang diketahui kebanyakan berasal dari alergi makanan. Ketika anak-anak ini dibandingkan, sekitar 59 persen anak-anak yang gemuk lebih tinggi alergi makanannya dibanding yang normal. Peneliti juga menemukan pada anak-anak yang gemuk, antibodi spesifik untuk penyebab alergi tertentu jumlahnya tinggi. Ellen WK tahun 2003 mengatakan kegemukan sering terjadi pada penderita yang mengalami alergi makanan.
  9. Sulit Makan dan Gangguan kenaikkan berat badan. Penderita alergi yang terkena gangguan pencernaan sering mengakibatkan sulit makan sehingga menimbulkan komplikasi kurang gizi atau malnutrisi. Biasanya ditandai dengan berat dan tinggi badan yang sulit bertambah. Gangguan pencernaan karena alergi sering terjadi pada usia tertentu seperti 4 – 6 bulan atau di atas 1 tahun.  Karena saat usia tersebut sering mulai dikenalkan makanan baru. Apabila makanan tersebut mengakibatkan alergi dan mengganggu pencernaan maka akan terjadi  sulit makan, sering muntah, sering diare, sering kembung dan sebagainya. Kesulitan makan atau minum susu tersebut sering disalah artikan karena anak bosan makanan tertentu atau karena sedang tumbuh gigi. Secara khas biasanya gangguan tersebut disertai gangguan tidur pada malam hari, seperti bolak-balik, rewel, mengigau, berbicara dan berteriak dalam tidur atau terbangun tengah malam. Bayi yang mempunyai riwayat gejala pencernaan seperti kolik pada malam hari pada bayi usia di bawah 1 tahun, ada riwayat berak darah atau dengan riwayat diare yang berulang. Mempunyai resiko untuk terjadi gangguan pencernaan di kemudian hari, apabila tidak ditangani secara benar akan beresiko terjadinya masalah berat badan.

PENCEGAHAN  ALERGI PADA ANAK

Bila terdapat riwayat keluarga baik saudara kandung, orangtua, kakek, nenek atau saudara dekat lainnya  yang alergi atau asma. Bila anak sudah mengalami manifestasi alergi sejak lahir atau bahkan bila mungkin deteksi sejak kehamilan maka harus dilakukan pencegahan sejak dini. Resiko alergi pada anak dikemudian hari dapat dihindarkan bila kita dapat mendeteksi sejak dini.

Ada beberapa upaya pencegahan  yang perlu diperhatikan supaya anak terhindar dari keluhan alergi yang lebih berat dan berkepanjangan :

  • Hindari atau minimalkan penyebab alergi sejak dalam kandungan, dalam hal ini oleh ibu.
  • Hindari paparan debu di lingkungan seperti pemakaian karpet, korden tebal, kasur kapuk, tumpukan baju atau buku. Hindari pencetus binatang (bulu binatang piaraan kucing dsb, kecoak, tungau pada kasur kapuk.
  • Tunda pemberian makanan penyebab alergi, seperti telor, kacang tanah dan ikan di atas usia 2-3 tahun. Bila membeli makanan dibiasakan untuk mengetahui komposisi makanan atau membaca label komposisi di produk makanan tersebut.
  • Bila bayi minum ASI, ibu juga hindari makanan penyebab alergi.Bila ASI tidak memungkinkan atau kalau perlu kurang gunakan susu hipoalergenik formula. 
  • Bila timbul gejala alergi, identifikasi pencetusnya dan hindari.

Daftar Pustaka

  1. Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988.
  2. Walker-Smith JA, Ford RP, Phillips AD. The spectrum of gastrointestinal allergies to food. Ann Allergy 1984;53:629-36.

wp-1510726155282..jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s