Penyakit Disebabkan Antibodi dan kompleks Antigen-Antibodi Hipersensitifitas Tipe II-III

Penyakit Disebabkan Antibodi dan kompleks Antigen-Antibodi Hipersensitifitas Tipe II-IIIwp-1465420855347.jpg

Antibodi terhadap antigen sel dan jaringan dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan penyakit (reaksi hipersensitivitas tipe II). Antibodi IgG dan IgM yang berikatan pada antigen sel atau jarinagn menstimulasi fagositosis sel-sel tersebut, menyebabkan reaksi inflamasi,  aktivasi komplemen menyebabkan sel lisis dan fragmen komplemen dapat menarik sel inflamasi ke tempat terjadinya reaksi, juga dapat mempengaruhi fungsi organ dengan berikatan pada reseptor sel organ tersebut.

Antibodi dapat berikatan dengan antigen yang bersirkulasi dan membentuk kompleks  imun, yang kemudian mengendap pada pembuluh darah dan menyebabkan kerusakan jaringan (reaksi hipersensitivitas tipe III). Kerusakan jaringan terutama disebabkan oleh pengumpulan lekosit dan reaksi inflamasi.

Antibodi, selain IgE, mungkin menyebabkan penyakit dengan berikatan pada target antigennya yang ada pada permukaan sel atau jaringan (reaksi hipersensitivitas tipe II) atau dengan membentuk kompleks imun yang mengendap di pembuluh darah (reaksi hipersensitivitas tipe III)

Penyakit hipersensitivitas yang diperantarai oleh antibodi (antibody-mediated) merupakan bentuk yang umum dari penyakit imun yang kronis pada manusia. Antibodi terhadap sel atau permukaan luar sel dapat mengendap pada berbagai jaringan yang sesuai dengan target antigen. Penyakit yang disebabkan reaksi antibodi ini biasanya spesifik untuk jaringan tertentu. Kompleks imun biasanya mengendap di pembuluh darah pada tempat turbulansi (cabang dari pembuluh darah) atau tekanan tinggi (glomerulus ginjal dan sinovium). Oleh karena itu, penyakit kompleks imun cenderung merupakan suatu penyakit sistemis yang bermanifestasi sebagai vaskulitis, artritis dan nefritis.

Etiologi penyakit yang diperantarai oleh antibodi (antibody mediated)wp-1465421583958.jpg

Antibodi yang dapat menyebabkan penyakit, yang  tersering adalah antibodi terhadap antigen diri dan agak jarang antibodi terhadap antigen asing (misal mikroba).  Diproduksinya autoantibodi disebabkan oleh kegagalan dari toleransi diri. Autoantibodi  dapat berikatan dengan antigen diri di jaringan, atau membentuk imun kompleks dengan antigen diri yang bersirkulasi.

Terdapat beberapa contoh penyakit yang disebabkan oleh antibodi yang diproduksi terhadap antigen mikroba. Dua contoh penyakit, sekuel lambat dari infeksi kuman streptokokus, yaitu  demam reumatik dan glomerulonefritis. Setelah terjadi suatu infeksi, individu tertentu membentuk antibodi antistreptokokus yang bereaksi silang dengan suatu antigen di otot jantung. Deposit dari antibodi ini di otot jantung, menyebabkan suatu penyakit inflamasi yang disebut demam reumatik. Individu lain membentuk anibodi antistreptokokus yang di deposit di glomerulus ginjal, menyebabkan penyakit post-stretococcal glomerulonephritis. Beberapa penyakit kompleks imun, disebabkan oleh antibodi yang membentuk kompleks terhadap antigen mikroba.

Mekanisme kerusakan jaringan dan timbulnya penyakit

Antibodi yang spesifik terhadap antigen pada sel dan jaringan dapat di deposit pada jaringan dan menyebabkan kerusakan karena menginduksi proses inflamasi lokal, atau mengganggu fungsi normal dari sel

Antibodi terhadap antigen jaringan dan kompleks imun yang mengendap di pembuluh darah menginduksi reaksi inflamasi dengan menarik dan mengaktivasi lekosit. Antibodi IgG dari sub kelas IgG1 dan IgG3 berikatan dengan reseptor Fc pada neutrofil dan makrofag dan mengaktivasi serta menimbulkan reaksi inflamasi. Antibodi IgG bersama IgM  juga mengaktivasi sistem komplemen melalui jalur klasik, yang juga menarik leukosit dan menginduksi proses inflamasi. Pada waktu leukosit diaktivasi pada tempat antibodi di deposit, maka akan diproduksi substansi enzim seperti reactive oxygen intermediates dan enzim lisosomal yang menimbulkan kerusakan jaringan (reaksi hipersensitifitas tipe 3, imun kompleks). Apabila antibodi berikatan pada antigen di permukaan sel, seperti eritrosit atau trombosit, maka sel tersebut akan diopsonisasi dan dirusak oleh sel-sel fagosit, atau dihancurkan pada waktu sistem komplemen diaktifkan (reaksi hipersensitivitas tipe 2, sitolitik). Beberapa antibodi dapat menyebabkan penyakit  tanpa merusak jaringan secara langsung, misalnya antibodi terhadap reseptor hormon mungkin mengganggu fungsi reseptor. Pada beberapa kasus myasthenia gravis, antibodi terhadap reseptor asetilkolin menghambat transmisi neuromuskular dan menyebabkan kelumpuhan. Pada penyakit hipertiroidisme Graves, autoantibodi menstimulasi reseptor TSH (thyroid stimulating hormone).

Sindrom klinik dan pengobatan

Beberapa kelainan hipersensivitas kronik pada manusia disebabkan atau berhubungan dengan autoantibodi terhadap antigen jaringan  kompleks imun. Tatalaksana dan pengobatan ditujukan terutama untuk mengurangi atau menghambat proses inflamasi dan kerusakan jaringan yang diakibatkannya dengan menggunakan kortikosteroid. Pada kasus yang berat, digunakan plasmapheresis untuk mengurangi  kadar autoantibodi atau kompleks imun yang beredar dalam darah.

 

 

Penyakit oleh autoantibodi terhadap antigen jaringan

Penyakit Antigen target Mekanisme Manifestasi klinopatologi
Anemia hemolitik autoimun

 

Protein membran eritrosit (antigen golongan darah Rh) Opsonisasi dan fagositosis eritrosit Hemolisis, anemia
Purpura trombositopenia autoimun (idiopatik)

 

Protein membran platelet (gpIIb:integrin IIIa) Opsonisasi dan fagositosis platelet Perdarahan
Pemfigus vulgaris Protein pada hubungan interseluler pada sel epidermal (epidemal cadherin)

 

Aktivasi protease diperantarai antibodi, gangguan adhesi interseluler Vesikel kulit (bula)
Sindrom Goodpasture Protein non-kolagen pada membran dasar glomerulus ginjal dan alveolus paru

 

Inflamasi yang diperantarai komplemen dan reseptor Fc Nefritis, perdarahan paru
Demam reumatik akut Antigen dinding sel streptokokus, antibodi bereaksi silang dengan antigen miokardium

 

Inflamasi, aktivasi makrofag Artritis, miokarditis
Miastenia gravis Reseptor asetilkolin Antibodi menghambat ikatan asetilkolin, modulasi reseptor

 

Kelemahan otot, paralisis
Penyakit Graves Reseptor hormon TSH Stimulasi reseptor TSH diperantarai antibodi

 

Hipertiroidisme
Anemia pernisiosa Faktor intrinsik dari sel parietal gaster Netralisasi faktor intrinsik, penurunan absorpsi vitamin B12 Eritropoesis abnormal, anemia

(Dikutip dengan modifikasi dari dari Abbas AK, Lichtman AH, 2004)

 

Penyakit oleh kompleks imun

Penyakit Spesifitas antibodi Mekanisme Manifestasi klinopatologi
Lupus eritematosus sistemik DNA, nukleoprotein Inflamasi diperantarai komplemen dan reseptor Fc

 

Nefritis, vaskulitis, artritis
Poliarteritis nodosa Antigen permukaan virus hepatitis B Inflamasi diperantarai komplemen dan reseptor Fc

 

Vaskulitis
Glomreulonefirtis post-streptokokus Antigen dinding sel streptokokus Inflamasi diperantarai komplemen dan reseptor Fc Nefritis

(Dikutip dengan modifikasi dari dari Abbas AK, Lichtman AH, 2004)

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s